Biden Sebut Tetangga RI ‘Kanibal’ Disoroti Media China

Internasional757 views

Inionline.id – Pernyataan Presiden Amerika Serikat Joe Biden yang menyebut Papua Nugini sebagai negara kanibal menjadi sorotan media internasional.

Salah satu media yang mengabarkan pernyataan Biden tersebut yakni Global Times dari China, yang menulisnya dalam artikel bertajuk “Label of ‘cannibals’ shows US’ inherent disrespect for PNG”.

Global Times menyoroti Perdana Menteri Papua Nugini James Marappe yang marah karena karena tak terima dengan ucapan Biden. Marappe tersinggung karena Biden seolah “menyiratkan bahwa pamannya dimakan oleh kanibal setelah pesawatnya ditembak jatuh di atas PNG saat Perang Dunia II.”

Global Times lantas menggarisbawahi desakan Marappe kepada AS yang meminta untuk membersihkan seluruh sisa Perang Dunia II yang berserakan di negara kepulauan Pasifik tersebut.

“Orang-orang PNG tidak perlu terseret ke dalam konflik yang bukan karena perbuatan mereka. Negara ini masih dipenuhi sisa-sisa manusia masa perang, bangkai pesawat, bangkai kapal dan terowongan, serta bom sisa-sisa perang yang masih membunuh orang-orang (di sini),” ujar Marappe.

Pernyataan Biden ini sendiri sudah diklarifikasi oleh Gedung Putih tak lama setelah membuat gaduh. Sekretaris pers Gedung Putih Karine Jean-Pierre menyebut Biden saat itu bicara mengenai keberanian pamannya serta anggota-anggota militer AS yang mempertaruhkan nyawa mereka.

Global Times menyangsikan klarifikasi Gedung Putih. Dalam artikelnya, media China itu mengatakan “slip of tongue” semacam itu biasanya mencerminkan pikiran asli sang penutur.

Global Times menyebut label kanibal yang diberikan Washington kepada Papua Nugini mencerminkan bagaimana Washington memandang negara-negara berkembang. Kanibal sendiri biasanya merepresentasikan ketidakberadaban dan keterbelakangan.

“Ini jelas menunjukkan penghinaan dan rasa tidak hormat yang melekat pada AS terhadap PNG dan bahkan seluruh wilayah kepulauan Pasifik,” kata asisten peneliti di China Institute of International Studies, Ning Tuanhui, kepada Global Times.

Media itu kemudian menyoroti bagaimana PM Fiji Aiyaz Sayed-Khaiyum pada Februari 2022 lalu mengatakan dengan blak-blakan bahwa ada suatu perasaan umum yang dirasakan negara-negara Pasifik bahwa “Washington berbicara mengenai kita, bukan bicara dengan kita” kala Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengunjungi negara tersebut.

“Negara-negara kepulauan Pasifik dan rakyatnya layak dihormati dan bercita-cita untuk memiliki kehidupan yang lebih baik,” tulis Global Times.

Global Times turut menulis tentang bagaimana rakyat Papua Nugini tidak setuju dengan perjanjian kerja sama yang ditandatangani AS dan PNG pada tahun lalu. Pasalnya, perjanjian tersebut merupakan kerja sama pertahanan, bukan kesepakatan ekonomi seperti yang dibutuhkan masyarakat.

“Tidak ada spesifik tentang manfaat apa yang akan datang,” kata mantan perdana menteri PNG Peter O’Neill.