Idulfitri Berpotensi Serentak, BMKG Beber Prediksi Hilal Syawal 1445 H

Iptek1057 views

Inionline.id – Lebaran idulfitri 2024 berpeluang besar serentak antara Pemerintah, Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah lantaran kondisi hilal atau Bulan penanda awal hijriah sudah memenuhi syarat setiap kubu.

Hal itu terungkap dalam Informasi Prakiraan Hilal saat Matahari Terbenam Tanggal 9 April Penentu Awal Bulan Syawal 1445 H dari Pusat Seismologi Teknik Geofisika Potensial dan Tanda Waktu Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Dalam menentukan awal bulan hijriah, termasuk ramadhan dan syawal, Pemerintah-PBNU menganut kriteria MABIMS. Sementara, Muhammadiyah memakai kriteria wujudul hilal.

MABIMS, yang merupakan kesepakatan Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura punya patokan awal hijriah adalah hilal punya tinggi minimal 3 derajat, elongasi atau jarak sudut Matahari-Bulan 6,4 derajat.

Di sisi lain, Muhammadiyah tetap menghitung bulan baru selama ketinggian hilal sudah terhitung di atas 0 derajat.

Hal inilah yang sering memicu perbedaan hari besar islam, termasuk awal Ramadhan 2024. Berdasarkan hasil prediksi BMKG, perbedaan itu kemungkinan tak terjadi di Idufitri 2024.

BMKG sendiri menghitung prakiraan hilal penentu Syawal ini berdasarkan kondisi di saat ijtimak atau konjungsi atau satu putaran penuh Bulan mengelilingi Bumi, yakni pada 9 April sebelum magrib.

Untuk mengukur kondisi hilal, BMKG menggunakan waktu Matahari terbenam, paling awal pukul 17.38.35 WIT di Merauke, Papua; dan paling akhir pukul 18.46.48 WIB di Sabang, Aceh.

Hasilnya, semua kategori sudah di atas angka minimal MABIMS. Idulfitri versi pemerintah pun diprediksi jatuh keesokan harinya, sama seperti Muhammadiyah.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Antariksa (BRIN) Thomas Djamaluddin menambahkan prediksi tinggi bulan di Jakarta pada 9 April mencapai ketinggian 6,3 derajat dan elongasi 8,9 derajat.

“Sehingga Idul Fitrinya insyaallah akan seragam pada 10 April,” ujar dia, di kantor BRIN, Jakarta, Jumat (8/3).

Berikut rincian prediksi kriteria-kriteria hisab saat Matahari terbenam Selasa (9/4) menurut BMKG:

Ketinggian hilal

BMKG menjelaskan tinggi hilal berarti besar sudut yang dinyatakan dari posisi proyeksi Bulan di horizon-teramati hingga ke posisi pusat piringan Bulan berada. Tinggi Hilal positif berarti hilal berada di atas horizon pada saat Matahari terbenam.

Hasil hisab BMKG menunjukkan ketinggian Hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 9 April berkisar antara 4,88 derajat di Merauke, Papua; sampai dengan 7,63 derajat di Sabang, Aceh.

Elongasi

Elongasi, kata BMKG, adalah jarak sudut antara pusat piringan Bulan dan pusat piringan Matahari yang diamati oleh pengamat di permukaan Bumi.

Hasil perhitungan BMKG mengungkap elongasi geosentris di Indonesia saat Matahari terbenam pada 9 April berkisar antara 8,39 derajat di Merauke, Papua; sampai dengan 10,22 derajat di Sabang, Aceh.

Umur Bulan

Umur bulan berarti selisih waktu terbenam Matahari dengan waktu terjadinya konjungsi.

Pada saat Matahari terbenam 9 April, umur Bulan terdeteksi berkisar antara 14,30 jam di Merauke, Papua; sampai dengan 17,43 jam di Sabang, Aceh.

Suara Muhammadiyah

Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sebelumnya lebih dulu menetapkan Idulfitri 1 Syawal 1445 bertepatan dengan Rabu, 10 April 2024.

Tinggi bulan pada saat Matahari terbenam di Yogyakarta 10 Maret yakni (¢ = -07° 48′ LS dan l= 110° 21′ BT ) = +00° 56′ 28” (hilal sudah wujud).

Pada saat matahari terbenam tanggal 10 Maret 2024, bulan berada di atas ufuk (hilal sudah wujud) kecuali di wilayah Maluku Utara, Papua, Papua Barat, dan Papua Barat Daya.

“Nah, Idulfitri 1 Syawal itu dimulai pada tanggal 10 April 2024,” kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, di kantornya, Yogyakarta, Sabtu (20/1).