Ini 3 Lautan yang Jadi Kunci Cuaca Ekstrem ‘Peneror’ RI

Iptek757 views

Inionline.id – Tiga wilayah lautan disebut jadi kunci awal mula hujan ekstrem di Indonesia dan berperan penting dalam akurasi prediksi cuaca.

Hal itu terungkap dalam orasi ilmiah peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin dalam pengukuhannya sebagai Profesor Riset Ilmu Atmosfer, Meteorologi, dan Klimatologi, di Jakarta, Kamis (25/4).

“Tiga lokasi kunci di laut yang dapat menghasilkan cuaca ekstrem di Indonesia: Laut Tiongkok Selatan, Samudra Hindia, Laut Banda-Maluku,” tutur dia.

Titik-titik itu diungkap terkait kondisi Indonesia yang dikenal punya cuaca dan iklim yang dikenal paling kompleks di seluruh dunia. Kesalahan prediksi hujan pun amat mungkin terjadi.

Ini termasuk karena isu model prediksi, apalagi di saat dunia memanas akibat pemanasan global yang memicu cuaca ekstrem makin sering.

“Ada kelemahan model prediksi hujan ekstrem yang belum mempertimbangkan faktor suhu lautan,” ujar Erma.

Model ini, kata dia, belum bisa memprediksi terutama fase onset atau waktu permulaan hujan yang meningkat tiba-tiba, khususnya di kawasan pesisir.

Menurut Erma, inilah pentingnya, “pemahaman interaksi atmosfer-laut dalam memicu hujan ekstrem.”

“Penting mempertimbangkan suhu permukaan laut dalam model cuaca,” imbuh dia.

Berikut uraian lokasi lautan yang penting buat prediksi pertumbuhan cuaca ekstrem tersebut:

Laut China Selatan

Erma menguraikan kawasan ini terkait dengan hujan dini hari ekstrem yang dipicu oleh dua fenomena, yakni Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS) dan Cold Tongue (CT).

CENS, mengutip BMKG, merupakan gelombang angin permukaan utara yang kadang melintasi ekuator atau khatulistiwa di laut pedalaman Indonesia (Laut China Selatan bagian selatan dan Laut Jawa).

Angin ini mempengaruhi konveksi atau pembentukan awan hujan di Laut Jawa dan pulau Jawa dan terkadang menyebabkan curah hujan yang tinggi.

Sementara, CT merupakan pendinginan permukaan air laut di khatulistiwa imbas pertukaran angin, dengan inti terdingin di perairan dekat pesisir tenggara Vietnam.

Duet fenomena ini, kata Erma, memicu hujan dini hari ekstrem yang biasanya terjadi mulai pukul 01.00 sampai 04.00, “seperti yang terjadi hari ini (Kamis, 25/4).”

Mekanismenya terjadi lewat propagasi atau penjalaran hujan melalui cold pool (wilayah dengan udara yang relatif dingin terbentuk oleh pengendapan atau presipitasi awan hujan, red).

“Hujan yang meluruh menghasilkan awan konvektif baru,” imbuh dia.

Fenomena ini, menurutnya, kerap terjadi (~20 persen) di pesisir utara Jawa bagian barat (Jakarta). “Hujan ini memicu banjir Jakarta,” ucap Erma.

Samudra Hindia

Wilayah ini berperan dalam pembentukan cuaca ekstrem imbas interaksi antara fenomena badai squall line di atmosfer dengan Gelombang Kelvin di laut.

Erma mencontohkannya dengan insiden pada 23 Mei hingga 2 Juni 2020 saat hujan badai dan banjir rob parah terjadi di Jawa-Bali dan memicu kerusakan masif.

Mekanismenya dimulai dengan penjalaran gelombang Kelvin di laut. Ini membuat permukaan air laut meningkat dari Samudra Hindia menuju ke Laut Jawa.

Di sisi lain, siklonik vorteks alias badai di atas Samudra Hindia dekat Sumatra memicu badai yang berbentuk memanjang, squall line. Badai ini memiliki siklus hidup panjang (>24 jam).

Penjalaran fenomena ini terjadi secara cepat, yakni 13,8 meter per detik, untuk kemudian mengalami penguatan kembali menjadi badai supersel setelah menyeberang Selat Sunda.

Laut Banda

Erma menyebut Laut Banda berperan dalam pembentukan dua jenis fenomena cuaca ekstrem, yakni Mesoscale Convective Complex (MCC) dan siklon tropis.

Pertama, MCC, yang menurut SkyBrary merupakan wilayah gabungan beberapa badai petir dengan luas lebih dari 100 km.

Fenomena ini pernah memicu banjir bandang di Luwu, Sulawesi, 16 Juli 2021, yang membuat 38 tewas dan lebih dari 14 ribu mengungsi.

“Penyebabnya adalah dua badai kembar jenis konvektif kompleks skala meso (MCC) yang persisten di atas Sulawesi,” kata Erma.

Saat itu, lanjutnya, MCC kembar memicu hujan ekstrem (curah hujan 90-120 mm per hari) sejak 13-16 Juli 2021. Insiden ini bermula dengan onset atau permulaan hujan dengan kenaikan yang tiba-tiba sejak sehari sebelumnya.

Fenomena ini, ungkap Erma, dapat diprediksi oleh model setelah dilakukan pembaruan suhu permukaan laut setiap enam jam.

Kedua, siklon tropis. Peneliti Utama BRIN kelahiran Lamongan ini menyebut Laut Banda pernah melahirkan fenomena cuaca ekstrem yang signifikan berupa Siklon Tropis Seroja, 4 April 2021, yang menghantam terutama Flores, Nusa Tenggara Timur.

Siklon tropis ini merupakan yang pertama yang berdampak katastropik di daratan wilayah Indonesia; 181 meninggal, 72 hilang, 47 luka-luka, 9 ribu lebih mengungsi, 1.962 infrastruktur rusak.

Erma memaparkan Siklon Tropis Seroja diinisiasi oleh dua vorteks atau badai kembar, yang ialah manifestasi dari gelombang Rossby. Gelombang panas ekstrem (marine heatwave) juga berkontribusi pada konvergensi (daerah perlambatan kecepatan angin, red) luas di Laut Banda.

“Vorteks selatan tumbuh menjadi bibit siklon karena interaksi antara [gelombang atmosfer] Rossby dan Madden Julian Oscillation (MJO) yang memberikan daya dukung angin baratan kuat bagi vorteks untuk berputar,” urai dia.