Banyak yang Ditutupi, IMF Ungkap Kerugian Raksasa akibat Ulah Hacker

Iptek757 views

Inionline.id – Laporan terbaru International Monetary Fund (IMF) mengungkap sebuah perusahaan berpotensi mengalami kerugian hingga US$2,5 miliar atau setara Rp40,5 triliun akibat serangan siber. Simak penjelasannya.

Risiko kerugian akibat kejahatan siber memang telah meningkat. Hal ini disebabkan oleh serangan siber yang sulit untuk diukur kemungkinannya secara akurat.

Potensi sebuah perusahaan mengalami kerugian sebesar US$2,5 miliar akibat serangan siber adalah setiap 10 tahun sekali.

Angka ini bisa mencapai sekitar 800 persen dari rata-rata pendapatan operasional perusahaan, sehingga tentu saja akan mengancam likuiditas dan solvabilitas dari perusahaan.

Laporan Global Financial Stability Report per April 2024 dari IMF melaporkan kerugian langsung yang dialami perusahaan akibat serangan siber memang tidak terlalu besar, yaitu sekitar $0,4 juta.

Namun, kerugian langsung yang dilaporkan oleh perusahaan mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan total kerugian akibat serangan siber. Hal tersebut disebabkan oleh perusahaan yang tidak melaporkan kerugian secara tidak langsung akibat serangan siber.

Kerugian tidak langsung ini meliputi hilangnya bisnis, kerusakan reputasi, atau investasi dalam keamanan siber yang dapat terjadi seiring berjalannya waktu.

Biasanya, hal tersebut juga dipengaruhi oleh perusahaan yang perlu memperkirakan harga saham agar tidak mengalami anjlok.

Saat ini, sebagian besar kerugian langsung dari serangan siber yang tercatat adalah gangguan jaringan/situs web, pelanggaran data berbahaya, pemerasan dunia maya, serangan berbahaya seperti ransomware, atau phising, spoofing dan rekayasa sosial.

Termasuk dari teknologi dan inovasi dalam layanan keuangan juga dapat memperburuk risiko kerugian akibat serangan siber. Sebab meski kemajuan kecerdasan buatan (AI) dapat membantu meningkatkan deteksi risiko dan penipuan, namun AI juga dapat dieksploitasi oleh para hacker.

Serangan siber meningkat tajam

Data terbaru juga mengungkap serangan siber melesat tajam sejak pandemi Covid-19. Secara khusus, jumlah serangan siber ini semakin meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan sebelum tahun 2020.

Dengan ketergantungan pada teknologi digital untuk berbagai kebutuhan, para pelaku kejahatan siber melihat peluang baru untuk mencuri data sensitif, menciptakan gangguan operasional, dan menggagalkan aktivitas bisnis.

Serangan siber ini meliputi pemerasan dunia maya, pelanggaran data berbahaya, gangguan jaringan dan situs web, phising, spoofing, rekayasa sosial, skimming, dan gangguan fisik.

Setelah pandemi Covid-19, secara berturut-turut dari tahun 2020 sampai dengan 2023 serangan siber tetap stabil pada angka kurang lebih 12 ribu dan angka ini belum termasuk dengan serangan siber yang tidak dilaporkan. Padahal sebelumnya pada tahun 2019, angka ini hanya mencapai 8 ribu serangan siber.

Khusus untuk tahun 2023, serangan siber didominasi oleh pelanggaran data berbahaya, pemerasan dunia maya, dan gangguan jaringan/situs web.

Kerugian langsung yang dilaporkan secara agregat dari serangan siber periode setelah pandemi tersebut mencapai hampir US$28 miliar (secara riil).

IMF menyebut kemungkinan besar angkanya jauh lebih tinggi jika ditotalkan dengan kerugian tidak langsungnya (perkiraan masih bervariasi antara 1 hingga 10 persen dari PDB global).

Untuk kerugian langsung ini mencakup, jumlah yang dikeluarkan untuk pemulihan kerusakan, denda dan sanksi, jumlah pungutan liar, atau hilangnya pendapatan usaha akibat gangguan operasional.

Sementara untuk kerugian tidak langsung mencakup rusaknya reputasi, penurunan bisnis di masa depan, peningkatan investasi keamanan siber, dan penurunan produktivitas.

Meningkatnya serangan siber dari waktu ke waktu ini sebagiannya disebabkan oleh beberapa adanya ketidaksesuaian dari laporan perusahaan dan jumlah kerugiannya.

Hal tersebut biasanya terjadi karena lambatnya pelaporan, kekhawatiran perusahaan terhadap reputasi, dan kurangnya persyaratan formal bagi perusahaan untuk melaporkan serangan siber di banyak negara, khususnya di negara berkembang dan negara terbelakang.