by

Ini Cerita Habiebie Pertemuan dengan Tiga Cagub Jakarta

Jakarta – Di tengah kesibukan berkampanye, tiga pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta menyempatkan diri bertemu Presiden Republik Indonesia ke-3 Bacharuddin Jusuf Habibie secara bergantian. Tak sesuai nomor urut, ketiganya datang atas undangan Habibie di kediamannya di Kuningan, Jakarta Selatan.

Menurut Informasi yang didapat CNNindonesia.com, Habibie mengundang tiga pasangan calon agar bisa memberikan pesan-pesan terkait pembangunan ibukota. Habibie berharap tiga pasangan calon bisa datang semua. Jika ada salah satu pasangan calon yang tidak bisa hadir, maka Habibie urung bertemu dengan calon lainnya.

Pasangan pertama yang memenuhi undangan Habibie adalah Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat, keduanya bertamu pada Rabu (25/1).
Lihat juga:
Habibie Disebut Tak Dukung Salah Satu Kontestan Pilkada DKI
Saat itu, Basuki alias Ahok datang tak berbarengan dengan Djarot. Djarot baru datang tak lama setelah Ahok diterima langsung oleh Habibie di perpustakaan pribadinya.

Setelah melakukan perbincangan selama satu jam lebih, Djarot mengatakan bahwa wejangan utama yang diberikan sang mantan Presiden adalah soal pembangunan terpadu.

Turunan dari wejangan utama tersebut, Djarot mengatakan, masalah moral budaya, agama, dan ilmu pengetahuan teknologi harus disinergikan dengan baik. Dengan begitu, kata dia, perbaikan dan tata sosial bisa diwujudkan di DKI Jakarta.

Djarot juga mengatakan, Habibie memberikan dukungan moral terkait tudingan miring pada dirinya dan Ahok.

“Kami diminta senyum dalam menghadapi serangan fitnah dan berita yang tak jelas asal-usulnya,” ujad Djarot usai pertemuan.

Sementara itu Ahok tak berkomentar banyak soal pertemuan dengan Habibie tersebut. Hanya saja dia menekankan bahwa keadilan dan pemerataan ekonomi harus terlaksana dengan baik di DKI Jakarta.
Sistem yang pernah dianut Sukarno dan Soeharto, kata Ahok, ditekankan oleh Habibie agar bisa dijalankan jika Basuki-Djarot terpilih kembali.

“Beliau mengatakan (agar kami) belajar dari nasionalisme dan non-SARA dari Bung Karno dan bagaimana memimpin dengan santun seperti Soeharto,” kata Ahok.

Setelah pasangan nomor urut dua, giliran pasangan nomor urut tiga Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang memenuhi undangan Habibie. Berbeda dengan Ahok-Djarot, Anies-Sandi datang bersamaan.

Dalam pertemuan selama dua jam tersebut, Habibie mengingatkan bahwa Indonesia saat ini tengah menjadi sorotan dunia dan itu sebabnya dia ingin agar iklim demokrasi di DKI Jakarta dijaga dengan baik.

Pertemuan antara Anies-Sandi dan Habibie yang digelar sehari sebelum debat kedua tersebut, Kamis (26/1), membuat kebanyakan wejangan yang diberikan berkisar pada persiapan debat bagi keduanya.

Menurut Anies, persoalan lapangan pekerjaan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi satu hal yang terus diingatkan Habibie dalam perbincangan tersebut. Sedikit mengklaim, Anies-Sandi mengatakan dua isu tersebut memang menjadi fokus keduanya selama masa kampanye ini.

Sandiaga pun mengatakan bahwa program One Kecamatan One Center Enterpreneurship sangat sesuai dengan apa yang diminta oleh Habibie tersebut.

Dia yakin bahwa jika program itu disatukan dengan pemenuhan pendidikan maka kualitas sumber daya manusia pun akan meningkat dengan sendirinya.
Anies membantah ada upaya meminta dukungan dari Habibie dalam kunjungan ini. “Kami meminta nasihat dan memohon doa,” kata Anies.

Sementara Agus-Sylvi menjadi pasangan terakhir yang memenuhi undangan dari Habibie, kemarin. Pasangan nomor urut satu ini disebut yang paling terakhir memberikan konfirmasi kehadiran undangan Habibie.

Pemilihan tanggal 29 Januari pun menjadikan keduanya sebagai satu-satunya pasangan yang menemui Habibie setelah debat jilid dua.

Hanya satu jam waktu yang dibutuhkan Agus dan Sylvi untuk mendengarkan wejangan dari Habibie. Ada beberapa wejangan yang diberikan oleh Habibie pada keduanya, dan salah satunya adalah soal pemerataan ekonomi di DKI Jakarta.

Pesan pertama yang disampaikan adalah soal kebinekaan dan persatuan masyarakat di DKI Jakarta. Habibie, kata Agus, berpesan agar persatuan di DKI harus dijaga mengingat akhir-akhir ini banyak kejadian yang mengganggu kemajemukan DKI Jakarta.

Habibie menurut Agus juga berpesan agar jika kelak terpilih masyarakat ibu kota bisa disatukan.

Untuk wejangan kedua berkaitan dengan membela kepentingan rakyat. Agus mengatakan Habibie ingin ia dan Sylvi bisa membela kepentingan rakyat sesuai dengan komitmennya ikut Pilkada.

Agus memaknainya dengan pemerataan ekonomi. Ia mengatakan, Habibie menekankan agar lapangan pekerjaan dibuka seluas-luasnya sehingga warga bisa memiliki pekerjaan dan penghasilan yang baik. Hal Itu tentu bisa berimbas pada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Agus mengklaim, yang disampaikan Habibie cocok dengan programnya yang membuatnya semakin semangat untuk merealisasikannya. “Saya sangat senang karena mendapatkan anugerah dalam arti program itu cocok,” ujarnya.

Khusus untuk pemerataan kesempatan kerja, Agus menyebut Habibie ingin agar semua orang harus memiliki peluang yang sama dan jangan sampai ada yang tertinggal.

Bila dicermati, ketiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur menyatakan bahwa Habibie memberikan wejangan yang berkaitan dengan pemerataan ekonomi bagi masyarakat DKI Jakarta.

Itu artinya, pria asal Parepare, Sulawesi Selatan tersebut masih merasa bahwa kehidupan ekonomi di DKI masih sangat tumpang tindih dan lapangan pekerjaan masih sangat minim.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik DKI Jakarta, jumlah penduduk miskin per September 2016 ada di angka 385,84 orang atau sekitar 3,75 persen dari keseluruhan masyarakat DKI.

Angka itu disebut naik sebanyak 1,54 ribu orang dibandingkan Maret 2016. Jika dibandingkan dengan angka setahun ke belakang, sebenarnya angka orang miskin di DKI Jakarta baik 0,14 persen.

Hal tersebut berarti sejak September 2015 hingga September 2016 jumlah orang miskinan naik 17,17 ribu orang dari 368,67 ribu ke 385,84 ribu orang.

Dengan rincian data seperti itu, sudah jelas bahwa wejangan dari Habibie ada benarnya. Dan sudah menjadi tugas para calon gubernur dan wakil gubernur jika mereka terpilih untuk mengurangi angka itu, kalau mampu malah menghilangkan angka masyarakat miskin.

Dengan sisa 16 hari lagi, masyarakat diharapkan bisa terus mengkaji apakah program yang ditawarkan ketiga pasangan calon bisa benar-benar mewujudkan lapangan pekerjaan dan mengurangi angka rakyat miskin di DKI Jakarta atau tidak. (ald/CNN)