by

Anggota DPRD Jabar Tegaskan Bhineka Tunggal Ika Sebagai Pemersatu Bangsa Indonesia

Bogor, Inionline.Id – Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Jawa Barat, Supono menggelar sosialisasi Citra Bakti Parlemen Dalam Sketsa Kebangsaan atau Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan yang berlokasi di Buitenzorg Caffe, jalan terusan swadaya, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, pada Selasa (25/08/2020). Tampak hadir 35 orang peserta dalam gelaran acara tersebut, rata-rata peserta yang hadir pun didominasi oleh kaum pemuda.

Supono pun mengatakan bahwa sosialisasi 4 pilar kebangsaan ini juga merupakan hal yang dianggap diluar mainstream ditengah banyaknya perdebatan keras melalui sosial media di Indonesia. “Karena secara faktual di lapangan, terjadi gesekan melalui sosial media, tetapi kalau dipahamkan hal tersebut masih bersifat relatif karena punya kebenaran, saat memiliki pemahaman seperti itu masih ada pemakluman karena hasil pemahaman masing-masing orang secara akademis dan intelektual akan mengurangi titik benturan, jadi saya melihat positifnya sosialisasi 4 pilar ini untuk hal itu,” kata Supono.

Dirinya pun memaparkan materi 4 pilar tidak secara standard pakem konten yang ada tetapi Supono lebih kepada sebab kenapa 4 pilar itu harus disampaikan. “Biar mereka yang menilai sendiri, perspektifnya seperti apa, saya tidak menjustifikasi mana yang benar, mana yang salah tetapi saya punya pendapat yang perlu saya sampaikan juga,” tutur Supono.

Peserta sosialisasi fokus mengikuti giat 4 pilar kebangsaan pada Selasa (25/08/2020).

Menurut politisi PAN tersebut, pembahasan yang dirinya tekankan pada sosialisasi 4 pilar kali ini adalah pada Bhineka Tunggal Ika dimana makna yang terkandung dalam semboyan negara Republik Indonesia ini sangat dalam sebagai pemersatu bangsan Indonesia. “Sebenarnya Bhineka Tunggal Ika adalah nilai yang sangat luhur yang dielaborasi para founding father kita tapi tidak sesempit seperti yang ada di kitab sutasoma, tetapi lebih luas dari itu, Ika yang sekarang ini sudah lebih luas dari era majapahit dulu, jadi kebhinekaan zaman pra-kemerdekaan itu lebih kompleks tetapi kenapa para pemuda itu mengikhlaskan 1 bangsa yaitu bangsa Indonesia, itu luar biasa, hanya orang-orang yang memiliki pemahaman sejarah yang proposional yang bisa seperti itu,” ujar Supono.

Tidak lupa, legislator asal daerah pemilihan Jawa Barat VI (Kabupaten Bogor) ini pun berpesan kepada masyarakat agar mempelajari sejarah dari sumber yang sifatnya primer. “Jadi kalau kita nasionalisme kebangsaan tidak didasarkan kepada sejarah, maka bisa menyebutkan itu keblinger, karena akan ada fanatisme sepihak yang sebenarnya sesuatu itu masih relatif, karena tafsir sejarah bisa macam-macam, kadang versi kekuasaan, kadang versi akademis, karena itulah hal-hal yang sifatnya debatable, itulah perlunya orang paham sejarah sehingga tidak fanatik dan lebih lentur sehingga menghindari benturan kepentingan,” imbuh Supono.

Lebih lanjut, menurut Supono 4 pilar kebangsaan seperti ini penting untuk disampaikan hanya saja cara penyampaian dirinya selalu meluruskan dari sisi track historisnya. “Paling tidak membuka wawasan, kalaupun mereka berpendapat begini tapi ada argumen historisnya karena argumen historis itu yang harus menjadi landasan,” tutup Supono. (JC)