Selain kemanan, Jokowi – Turnbull Serius Bahas Perdagangan

SYDNEY, AUSTRALIA — Hubungan Australia dengan Indonesia – negara berpenduduk terbesar di kawasan – kerap mengalami goncangan. Hubungan kedua negara memburuk ketika Australia mendukung kemerdekaan Timor Timur dari Indonesia tahun 2002.
Hubungan diplomatik juga sempat tegang pada tahun 2015 ketika Indonesia mengeksekusi mati dua anggota kelompok perdagangan narkoba Australia, meskipun pemerintah negara kangguru itu mengajukan permohonan pengurangan hukuman.
Bulan Januari lalu, Indonesia bahkan sempat menghentikan hubungan militer bilateral setelah adanya perselisihan di pangkalan Pasukan Khusus Australia di Perth. Ketegangan itu telah mereda, dan kini lawatan Presiden Joko Widodo akan membawa kemajuan berarti dalam perjanjian perdagangan bebas.
Aaron Connelly – analis di Lowy Institute di Sydney – mengatakan hubungan kedua negara kini berada dalam kondisi baik.
“Hal yang sangat luar biasa adalah meskipun ada latar belakang masalah yang mengganggu dalam beberapa kesempatan, hubungan kedua negara sebenarnya cukup baik. Menteri-menteri dari kedua negara memiliki hubungan yang baik dengan mitra mereka, dan sikap warga Australia pada Indonesia juga baik. Dalam jajak pendapat yang dilangsungkan Lowy Institute tahun lalu, kami menanyakan pada warga Australia perasaan mereka pada beberapa negara, dengan memberi nilai nol hingga seratus. Indonesia ada di peringkat ke-56, atau yang tertinggi dalam jajak pendapat selama 11 tahun terakhir ini,” ujarnya.
Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Malcolm Turnbull diperkirakan akan membahas bahaya para pejuang radikal yang kembali ke tanah air dari medan konflik di Irak dan Suriah. Ketegangan di Laut Cina Selatan juga menjadi agenda tambahan, selain tentang kemugkinan patroli bersama angkatan laut di daerah itu.
Meskipun signifikan, lawatan pemimpin Indonesia itu ke Sydney berlangsung singkat. Ia tiba hari Sabtu (25/2) dan terbang kembali ke Jakarta Minggu siang (26/2). Joko Widodo terpaksa membatalkan rencana lawatan sebelumnya November lalu karena gangguan keamanan di Jakarta.

 

[ald/VOA)