TIPS KELOLA STRESS ALA MAHASISWA TINGKAT AKHIR

Pendidikan3657 views

Inionline.id – Tuntutan menjalankan kewajibannya sebagai mahasiswa, seperti menyelesaikan tugas perkuliahan, mengukir prestasi, serta penyusunan tugas akhir cenderung meningkatkan kelelahan mahasiswa dalam belajar (Supriyono, 2019). Bahkan Survei Gallup (2023) mendapati sebagian besar mahasiswa mengalami tingkat stres sebesar 66%.

Tidak dapat dipungkiri pada akhirnya mahasiswa berupaya mencari kesibukan lainnya dalam meredakan stres, seperti halnya dengan menyelingi kegiatan yang disukai atau melakukan hobi, menghabiskan waktu bersama lingkungan yang positif, dan aktif bersosialisasi (Adit, 2023).

Sebagai mahasiswa tingkat akhir merupakan kelompok yang rentan terhadap stress, Netti Anjelina, Mahasiswa Program Studi Komunikasi Universitas Pertamina (UPER) angkatan 2020, memiliki cara tersendiri dalam mengelola stres di masa perkuliahan. Bagi Netti, memiliki kegiatan diluar kewajiban berkuliah merupakan salah satu cara dalam mengelola stress dan tekanan yang datang.

“Keterlibatan saya dalam berbagai kegiatan tersebut dapat membuat saya lebih rileks. Terlebih lagi ketika ketemu banyak orang dapat menambah banyak pengalaman dan pengetahuan baru bagi saya. Sehingga pada akhirnya banyaknya kegiatan diluar kampus juga meningkatkan prestasi saya baik secara akademik maupun non-akademik,” ujar Netti (20/1).

Meskipun tengah menempuh skripsi, Netti menjadi bukti bahwa tuntutan kewajiban sebagai mahasiswa tidak menghalangi jalannya dalam melakukan berbagai kegiatan. Muhammad Nur Ahadi, M.I.Kom, selaku Kepala Program Studi Komunikasi UPER, mengapresiasi upaya Netti untuk mengembangkan potensi dirinya.

“Program Studi Komunikasi UPER dirancang untuk menghasilkan lulusan yang mampu bersaing di dalam industri. Hal tersebut diupayakan dengan desain kurikulum yang menyeimbangkan teori dan praktik. Selain itu, proses pembelajaran juga didekatkan dengan kasus-kasus di dalam industri, salah satu hal yang dilakukan adalah dengan melakukan pembelajaran bersama praktisi, alumni yang telah bekerja, dan juga praktik di lapangan melalui pelaksanaan Kerja Praktik (KP),” ujar Ahadi.

Dalam keberhasilannya di bidang akademik dan non-akademik, Netti membagikan kiat kesuksesannya:

1. Pandai mengatur waktu
Keterampilan mengatur waktu sangat penting dan bermanfaat untuk mempermudah diri dalam melakukan aktivitas atau menyelesaikan suatu pekerjaan. Untuk memaksimalkan waktu, Netti mengatakan bahwa membiasakan diri dalam membuat daftar kegiatan menjadi salah satu caranya.

“Disaat yang bersamaan dengan menyusun skripsi, saya juga tergabung menjadi asisten dosen dan bekerja paruh waktu di Fungsi Hubungan Masyarakat UPER. Di tengah padatnya aktivitas tersebut, saya berusaha membiasakan diri dengan saya mencatat hal yang akan dikerjakan di besok hari. Kebiasaan tersebut nyatanya dapat mempermudah saya dalam menyelesaikan suatu pekerjaan karena sudah terbagi dengan jelas waktu dan kegiatan mengenai hal apa saja yang akan dilakukan,” ucap Netti.

2. Aktif di Kegiatan Luar Kampus
Salah satu hal yang membuka pintu relasi luas, yaitu keaktifan dalam mengikuti berbagai kegiatan eksternal. Bagi Netti kegiatannya di luar kampus tersebut mempertemukan dirinya dengan banyak orang dari berbagai latar belakang.

“Salah satu kegiatan yang dapat memperluas relasi saya, yaitu dengan bergabungnya menjadi volunteer di Bantu.IDN. Saya bertemu banyak orang mulai dari yang masih berkuliah hingga sudah bekerja,” pungkas Netti.

3. Giat Mencoba Hal Baru
Dalam mengikuti berbagai kegiatan, tak heran bahwa terkadang Netti juga dihadapkan pada kegagalan. Baginya kegagalan tersebut justru menjadi upaya belajar lebih giat lagi dan menjadi motivasinya untuk ikut berbagai kegiatan lainnya.

“Bagi saya gagal merupakan proses perjalanan menuju kesuksesan yang tertunda. Sehingga dengan ini saya biasanya lebih asik untuk banyak mencari hal baru lainnya agar tidak stress setelah mengalami kegagalan. Misalkan dengan ikut lomba atau justru mengikuti pelatihan-pelatihan baru,” tutup Netti.