by

Penyekatan Hingga 17 Mei, Mengantisipasi Mudik Setelah Lebaran

Inionline.id – Polda Metro Jaya menjelaskan penyekatan arus mudik akan terus dilakukan hingga 17 Mei untuk mengantisipasi warga yang berangkat mudik sejak Hari Raya Idulfitri pada 13 Mei hingga tiga hari setelahnya (H+4).

“Sampai tanggal 17 kita masih tetap menyekat keluar karena diperkirakan sampai tanggal 17 yang habis salat ied di Jakarta, namun kemudian keluar kota setelahnya. Jadi masih melaksanakan penyekatan sampai tanggal 17,” ujar Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Pol Sambodo Purnomo, Kamis (13/5), dari ntmcpolri.info.

Sambodo sebelumnya sudah menjelaskan telah menambah pos penyekatan dan jumlah personel untuk mengantisipasi arus mudik di perbatasan. Meski demikian dikatakan banyak masyarakat, terutama pesepeda motor, yang memaksa melintasi penyekatan.

Awalnya kepolisian tetap melarang melintas dan meminta masyarakat agar putar balik. Namun permintaan itu tak diterima lantas para pemudik membuat kerumunan sehingga berisiko kesehatan saat pandemi Covid-19. Sambodo bilang kepolisian lantas melakukan diskresi dengan membuka penyekatan.

“Ada para pemudik yang membawa anak-anak dan segala macamnya. Oleh sebab itu kami melakukan diskresi kepolisian, untuk kemudian secara bertahap membuka penyekatan untuk kemudian mereka bisa lolos hanya sekadar untuk memecah kerumunan,” katanya.

Meski lolos, para pemudik dikatakan juga harus melintasi pos penyekatan lainnya.

“Lolos dari Karawang masuk Purwakarta, masuk Subang ada lagi, masuk Indramayu ada lagi, masuk Cirebon ada lagi pos penyekatan, bahkan ke kota mana pun ketika para pemudik itu masuk ke kota tertentu itu ada penyekatan. Itulah sebabnya kita melaksanakan penyekatan berlapis dengan 381 titik,” kata Sambodo.

Sambodo mengingatkan masyarakat agar menyadari risiko mudik yakni menyebarkan Covid-19 ke kampung halaman. Risiko juga bisa berlaku sebaliknya, pemudik menjadi pembawa virus dari kampung halaman daerah asal.

“Intinya seberapa besar pasukan pun, yang kita butuhkan justru kesadaran kolektif masyarakat untuk sama-sama mau mematuhi anjuran pemerintah untuk tidak mudik. Karena mereka tidak mungkin kan kita paksa, kita dorong karena mereka bukan unjuk rasa. Kita tetap persuasif dan humanis,” katanya.