Tim Pengawas Haji DPR RI Ungkap Kondisi Jemaah Haji Indonesia di Mina

Headline, Nasional857 views

Inionline.id – Kondisi jemaah haji Indonesia di Mina, Arab Saudi yang memprihatinkan diungkap Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI.

Ketua (Timwas) Haji DPR Muhaimin Iskandar alias Cak Imin mengungkapkan kondisi tenda jemaah haji RI yang berdesakan hingga toilet yang antre berjam-jam.

Cak Imin menyayangkan tenda sempit yang menyebabkan ruang gerak jemaah tak lebih dari 1 meter.

“Tadi kita menemukan fakta jumlah jemaah dengan kapasitas tenda yang tidak sesuai,” kata Wakil Ketua DPR RI itu saat mengutip detikcom, Rabu (19/6).

Cak Imin mengatakan tenda dengan pengguna berlebih ini mengakibatkan banyak jemaah yang tidak kebagian tempat tidur di dalam tenda.

“Satu orang cuma 0,8 meter, artinya 1 meter enggak nyampe, akhirnya tidur di lorong. Ini tidak boleh terulang,” katanya.

Di sisi lain, Cak Imin juga mendapatkan informasi adanya tenda lain yang justru lebih luas. Menurutnya, hal ini tidak adil. Dia pun mengusulkan ke depannya agar tenda harus sama ukurannya.

“Lalu yang kedua, ada tenda yang berlebihan, leluasa. Ini enggak adil, cara pembagian yang salah,” imbuhnya.

“Ke depan, tiap tenda harus ukuran per orang per nama, kayak di hotel,” imbuhnya.

Toilet antre berjam-jam

Tak cuma tenda, kondisi toilet juga jadi keluhan jemaah RI. Salah satu jemaah bahkan menyampaikan ini di depan Timwas Haji DPR.

Jemaah kloter JKS10 Kabupaten Bandung Barat (KBN) di Maktab 72 Mina, Arab Saudi, mengeluhkan kapasitas toilet yang tidak memadai. Jemaah antre di toilet berjam-jam hingga terpaksa buang air kecil di samping tenda.

Hal ini disampaikan oleh seorang jemaah saat anggota Timwas Haji DPR, sekaligus Wakil Ketua Komisi VIII DPR Fraksi Golkar, Ace Hasan Sadzily.

“Di kamar mandi, jumlah kapasitas jemaah yang banyak dengan kamar mandi yang sedikit, sampai di belakang pun dijadiin (untuk) buang air kecil sama ibu-ibu,” kata seorang jemaah.

Jemaah tersebut juga menyampaikan kondisi tenda bagi jemaah yang menurutnya tidak ramah lansia. Jemaah lansia harus naik turun tangga di tenda tersebut.

“Yang lansia harus naik turun tangga, ke bawah. Tapi intinya kamar mandi. Kamar mandi ngantre,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Kloter JKS10 Oma Firdaosi mengungkap persoalan tenda yang melebihi kapasitas. Pihaknya sampai berselisih dengan kloter lain karena persoalan tenda sempit ini.

“Daya tampung, kemarin kami mengalami sedikit berselisih dengan kloter yang lain. Dengan pembagian itu harus disesuaikan dengan jumlah jemaah,” katanya.

Kloter JKS10 sendiri memiliki jumlah jemaah 440 orang.

“Dengan daya tampung yang tidak memadai, ditaruh di sini. Kita 440 (orang) sehingga kemarin kekurangan 100. Jadi 50 sekarang di sana, dekat dapur,” kata Oma.

“Harusnya daya tampung 440, tapi 50 ditampung di tempat lain setelah meminta kepada maktab untuk ditempatkan di tempat lain,” tanya Ace kepada Oma.

Menanggapi keluhan tersebut, Ace menyampaikan pihaknya mengevaluasi penyelenggaraan haji 2024.

“Jadi kami ke sini untuk melakukan pengawasan untuk perbaikan. Ini nanti akan menjadi bahan evaluasi,” kata Ace.

Antrean berjam-jam ini juga menjadi sorotan Cak Imin. Dia menyoroti secara khusus terkait rasio kamar mandi yang tidak imbang dengan jumlah jemaah.

“Rasio kamar mandi enggak imbang. (Jemaah) mengantre sampai 2 jam, ada yang pingsan,” kata Cak Imin.

Ia juga menyoroti kebersihan di tenda dan toilet yang tidak terjaga hingga soal wastafel untuk berwudu.

“Kebersihan tidak terjaga. Ngapain bikin wudu pakai wastafel harusnya wudu biasa saja,” katanya.

Sentil Kemenag

Cak Imin menyampaikan pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama (Kemenag) seharusnya memperhitungkan rasio kebutuhan toilet dengan jumlah jemaah. Jumlah jemaah Indonesia sendiri mencapai 241 ribu orang.

“Jumlah rasionya (toilet) harus dihitung, ini semua biaya, mereka semua mengeluarkan biaya, negara mengeluarkan biaya,” katanya.