Soal Pabrik Raksasa Tekstil di Jateng Tutup, Kemnaker Buka Suara

Ekonomi1057 views

Inionline.id – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) buka suara soal informasi pabrik raksasa tekstil di Jawa Tengah (Jateng) tutup.

Badai krisis memang tengah menghantam industri tekstil. Ada 6 pabrik yang tutup operasi serta 13 ribu lebih buruh terkena PHK.

Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Kemnaker Indah Anggoro Putri menyebut memang ada sejumlah pabrik raksasa tekstil di Jateng yang tadinya berencana melakukan PHK.

Namun setelah dicek Kemnaker, rupanya pelaksanaan PHK itu dibatalkan.

“Betul, di Jawa Tengah ada. Ada yang grup, yang tiga besar grup itu juga. Tapi tadi barusan saya cek waktu saya di dalam saya telepon kadis-nya (kepala dinas), enggak akan PHK,” katanya saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (13/6).

Meski tak ada PHK, Putri menjelaskan bakal ada pengurangan hak-hak karyawan. Sebab perusahaan tengah kesusahan lantaran penjualan turun sehingga produksi pun berkurang.

“Sedang lapor ke dinas boleh enggak kalau ada hal-hal hak karyawan yang diturunkan, misalnya enggak ada lembur,” jelas dia.

“Masih kami monitor, sepanjang tidak mengganggu kenyamanan pekerja, kita mungkin masih mempertimbangkan. Tapi kalau sudah sampai enggak dibayar sama sekali, itu kan enggak benar,” sambung Indah.

Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) mencatat ada sekitar 13.800 buruh tekstil terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dari Januari 2024 hingga awal Juni 2024.

“Kurang lebih dari periode Januari 2024-awal Juni (2024) sekitar 13.800 (buruh tekstil di-PHK). Itu data KSPN, yang kami punya. Yang kecil-kecil, puluhan (PHK) belum kami input, karena ada juga PHK atau efisiensi,” kata Presiden KSPN Ristadi kepada CNNIndonesia.com, Selasa (11/6).

Bahkan, Ristadi menuturkan data PHK yang terjadi di Jawa Tengah lebih masif. Ia mencatat pabrik-pabrik yang terdampak, misalnya di grup PT Sri Rejeki Isman Tbk alias Sritex.

Ia mencontohkan tiga perusahaan di bawah grup Sritex yang mem-PHK sejumlah karyawannya. Ada PT Sinar Pantja Djaja di Semarang, PT Bitratex di Kabupaten Semarang, dan PT Djohartex yang ada di Magelang.

Secara garis besar, ia menangkap biang kerok PHK massal ini adalah orderan yang lesu. Ristadi menyebut tingkat pesanan yang masuk ke sejumlah pabrik tekstil di Indonesia terus menurun.

Presiden KSPN ini menyebut banyak juga perusahaan yang merumahkan karyawannya saat tak ada order masuk. Pasalnya, pengusaha tekstil tersebut tak punya modal jika harus mem-PHK buruh.

“Mau PHK, dia (pengusaha) gak ada uang, mempekerjakan ndak ada pekerjaan,” ungkap Ristadi soal kondisi di lapangan.

“Perusahaan ada order jalan, enggak, tutup lagi. ‘Senin-Kamis’ lah kira-kira. Kalau lama-lama begini cash flow perusahaan gak akan kuat dan tutup juga,” tandasnya.

Rincian PHK pabrik tekstil hingga awal Juni 2024:

– Pabrik tutup
1. PT Dupantex, Jawa Tengah PHK sekitar 700 karyawan
2. PT Alenatex, Jawa Barat PHK sekitar 700 karyawan
3. PT Kusumahadi Santosa, Jawa Tengah PHK sekitar 500 orang
4. PT Pamor Spinning Mills, Jawa Tengah PHK sekitar 700 orang
5. PT Kusumaputra Santosa, Jawa Tengah PHK sekitar 400 orang
6. PT Sai Apparel, Jawa Tengah PHK sekitar 8.000 orang

– PHK karena efisiensi
1. PT Sinar Pantja Djaja, Jawa Tengah sekitar 2.000 karyawan
2. PT Bitratex, Jawa Tengah sekitar 400 karyawan
3. PT Djohartex, Jawa Tengah sekitar 300 karyawan
4. PT Pulomas, Jawa Barat sekitar 100 karyawan.