Penyebab Munculnya Awan Bolong seperti di Jember Diungkap NASA

Iptek857 views

Inionline.id – Fenomena awan berlubang di berbagai lokasi, termasuk AS dan Indonesia, tertangkap jepretan teleskop antariksa James Webb milik lembaga penerbangan dan antariksa AS (NASA). Simak penjelasan lembaga.

Awan berlubang ini ditangkap Satelit Terra milik NASA di dekat pantai barat Florida, AS pada 30 Januari. Foto awan bolong itu diunggah NASA di situs Visible Earth pada 26 Februari.

Kejadian serupa berlangsung di Jember, Jawa Timur, pekan lalu. Penampakan awannya tampak aneh, seperti ada orang yang baru saja membuat lubang di langit.

“Para ilmuwan berspekulasi tentang lubang-lubang di awan ini selama beberapa dekade, namun kini dipahami dengan baik bahwa lubang tersebut disebabkan oleh pesawat terbang,” demikian keterangan NASA┬ádi situsnya.

Dan ini bukanlah fenomena baru. Para peneliti, kata NASA, sudah mendokumentasikan fenomena yang disebut Awan Cavum ini sejak 1940-an. Namun, baru sekitar 15 tahun yang lalu para ilmuwan akhirnya menemukan penjelasannya.

“Cavum, juga disebut awan pembuat lubang (hole-punch cloud) dan lubang jatuh beruntun (fallstreak hole), terlihat sangat aneh sehingga orang terkadang berargumen itu adalah ciri-ciri piring terbang atau fenomena anomali tak dikenal lainnya,” kata lembaga.

“Dilihat dari bawah, tampak seperti lingkaran besar atau elips yang terpotong rapi dari awan, dengan gumpalan bulu tertinggal di tengah lubang.”

Faktanya, fenomena ini bukanlah awan biasa. Tanpa teknologi manusia, Awan Cavum tidak akan pernah ada.

Menurut NASA, awan ini terbentuk ketika pesawat terbang melewati tepian awan altocumulus tingkat menengah (awan yang terbuat dari tetesan air yang sangat dingin) menurut penelitian yang diterbitkan pada tahun 2010 dan 2011.

Para ahli di Pusat Penelitian Langley NASA pada 2010 menemukan bahwa semakin dangkal sudut pesawat melewati awan, semakin besar rongga yang ditinggalkan.

Analisis menunjukkan, dikutip dari Insider, semua jenis pesawat bisa menghasilkan Awan Cavum, termasuk jet penumpang besar, jet pribadi, jet militer, hingga turboprop.

Frekuensi penerbangan yang tinggi di Bandara Internasional Miami pun disebut memperbesar peluang fenomena ini.

“Dengan lebih dari 1.000 penerbangan tiba di Bandara Internasional Miami setiap hari, terdapat banyak peluang bagi pesawat untuk menghadapi kondisi atmosfer yang diperlukan untuk menghasilkan Cavum,” kata NASA.

Peneliti juga menyebut faktor lain yang dapat mempengaruhi panjang awan ini antara lain ketebalan lapisan awan, suhu udara, dan derajat pergeseran angin horizontal.

Satelit Terra sendiri dirancang untuk mempelajari perubahan atmosfer bumi dan dampak perubahan iklim. Peneliti menggunakan data yang dikumpulkan dari satelit untuk memetakan dampak aktivitas manusia dan bencana alam.