ITS Bakal Punya Living Laboratory Terbesar di Indonesia

Pendidikan457 views

Inionline.id – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memulai pembangunan proyek Renewable Energy Integration of Indonesia (REIDI). Proyek ini adalah tindak lanjut kerja sama antara ITS dengan Nanyang Technological University (NTU) Singapore.

Melalui program INSPIRASI (Indonesia – Nanyang Technological University Singapore Institute of Research for Sustainability and Innovation), REIDI akan menjadi living laboratory renewable energy atau laboratorium demonstrator pertama dan terbesar di Indonesia. Proyek ini sudah diresmikan sejak akhir Desember 2023 lalu.

Koordinator Pembangunan Proyek REIDI, Ary Bachtiar KP ST MT PhD menyebutkan alasan mengapa ITS menjadi kampus yang ditunjuk untuk membangun REIDI. Salah satunya berkaitan dengan kesepakatan antara berbagai pihak pusat, terkait penggunaan lahan di ITS.

“Alhamdulillah, ITS dipercaya untuk menyediakan lahan dan mengelola proyek ini ke depannya,” ungkapnya dikutip dari rilis di laman ITS, Jumat (7/6/2023).

Akan Rampung Pada Tahun 2027

Dijelaskan Ary, ITS memberikan lahan seluas 1,5 hektare untuk proyek REIDI. Pembangunannya akan terbagi menjadi tiga tahap hingga tahun 2027.

Tahap pertama berkaitan dengan pembangunan area pembangkit energi terbarukan yang bersumber pada photovoltaic (PV), agrovoltaic, dan biomassa. Bagian ini direncanakan rampung pada akhir 2024.

Bila dasar awal sudah rampung, tahap kedua akan dimulai fase peninjauan desain, pembangunan, serta penerapan dan penggunaan dari masing-masing komponennya. Terakhir, pembangunan akan difokuskan pada pembangunan pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) yang bersumber hidrogen dan sistem Grid Management Solution.

“Di akhir tahap ini juga akan dilakukan uji penerimaan situs dan fungsionalisasi keseluruhan REIDI. Harapannya, pembangunan dari setiap fasenya nanti bisa segera selesai sehingga dapat digunakan secepatnya,” tambah Ary.

Ketika nanti telah rampung, REIDI diharapkan akan menjadi penyedia operasional kelistrikan intra kampus. Selain itu, perguruan tinggi dan perusahaan yang bergerak di bidang renewable energy bisa menggunakan laboratorium ini sebagai fasilitas pengujian dan training.

Proyek dengan Pendanaan Rp 72,7 Miliar

Berkaitan dengan pendanaan, Ary membocorkan bila pengelolaan proyek ini senilai Rp 72,7 miliar yang didapatkan dari berbagai pihak. Bukan hanya NTU tetapi juga mendapat sumber dana dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) RI.

Tidak sendiri, ITS juga akan melakukan kolaborasi dengan PT Pembangkit Listrik Negara (PLN) untuk membantu proses hilirisasi produk hasil REIDI, terutama dalam hal pasokan listrik. Untuk itu, Ary berharap agar proyek ini bisa selesai tepat waktu dan manfaat bisa segera dirasakan masyarakat.

“Selebihnya, saya berharap dengan adanya living laboratory ini nantinya dapat dimanfaatkan terus hingga berkelanjutan kedepannya,” tutupnya.