Ahli Kaget, Embun Beku Ditemukan di Puncak Gunung Berapi Mars

Iptek757 views

Inionline.id – Studi terbaru berhasil menemukan embun beku di sejumlah puncak gunung berapi di Planet Mars. Menurut para peneliti, temuan ini sangat tidak terduga.

Wilayah ekuator atau khatulistiwa Mars merupakan tempatnya gunung-gunung paling tinggi di Tata Surya.

Gunung terbesar, yakni Olympus, memiliki tinggi 26 kilometer dan diameter 602 kilometer, membuatnya sekitar 100 kali lebih besar dari gunung berapi terbesar di Bumi, Mauna Loa di Hawaii.

Gunung-gunung raksasa ini memiliki atap kaldera besar. Kaldera merupakan cekungan berbentuk mangkuk yang disebabkan oleh runtuhnya bagian atas gunung berapi setelah letusan hebat.

Ukuran kaldera yang sangat besar, bahkan hingga 121 kilometer lebarnya, menciptakan iklim mikro khusus di dalamnya.

Dengan menggunakan kamera yang dipasang pada wahana yang mengorbit Mars, para peneliti telah mengamati embun beku di pagi hari yang terbentuk di dalam kaldera-kaldera tersebut.

“Endapan terbentuk di lantai kaldera, tapi kami juga melihat sedikit embun beku di pinggirannya. Kami juga mengonfirmasi bahwa itu adalah es dan kemungkinan besar air,” kata Adomas Valantinas, penulis utama studi yang juga peneliti pascadoktoral di Brown University, dikutip dari CNN.

“Ini penting karena menunjukkan pada kita bahwa Mars adalah planet yang dinamis, tapi juga menunjukkan kalau air bisa ditemukan hampir di semua tempat di permukaan Mars,” tambahnya.

Menurut studi yang diterbitkan di jurnal Nature Geoscience tersebut, embun beku terlihat di empat gunung berapi Mars, yaitu Arsia Mons, Ascraeus Mons dan Ceraunius Tholus, serta Olympus Mons.

Sayangnya, endapan es tersebut sangat tipis, dengan ketebalan hanya seperseratus milimeter, atau seperenam dari rambut manusia. Namun, embun ini tersebar di area permukaan yang begitu luas sehingga jumlahnya sangat banyak.

“Berdasarkan perkiraan kasar, jumlahnya sekitar 150.000 metrik ton es air, setara dengan 60 kolam renang Olimpiade,” kata Valantinas.

Meski demikian, embun beku ini memiliki kemungkinan kecil untuk suatu hari dapat dipanen oleh astronaut manusia di Mars. Hal ini dikarenakan es yang tipis dan periode beku yang singkat.

“Ini akan sangat sulit, karena meskipun merupakan deposit yang besar, es ini juga sangat tipis dan cepat hilang, artinya es ini hanya ada di sana pada malam hari dan pagi hari, lalu menyublim kembali ke atmosfer,” kata Valantinas.

Lebih lanjut, Valantinas mengatakan temuan ini merupakan suatu kebetulan, karena pada awalnya ia mencari embun beku karbon dioksida, tetapi tidak menemukannya.

“Jika embun beku di gunung berapi ini dipastikan adalah air [dan bukan karbon dioksida], maka itu akan mengejutkan,” katanya.