Gara-gara Tiket Mudik Mahal, Inflasi April 2024 Tembus 3 Persen

Ekonomi1157 views

Inionline.id – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi pada momen Lebaran atau April 2024 sebesar 3 persen secara tahunan (year on year/yoy). Sedangkan inflasi bulanan terealisasi 0,25 persen.

Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan terjadi peningkatan indeks harga konsumen (IHK) secara bulanan dari 106,13 menjadi 106,4.

“Secara year to year terjadi inflasi 3,0 persen dan secara tahun kalender atau year to date inflasi 1,19 persen,” ujar Amalia dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta Pusat, Kamis (2/5).

Ia mengatakan tingkat inflasi bulanan April 2024 lebih rendah dibanding bulan sebelumnya dan bulan yang sama pada tahun lalu.

Adapun kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar adalah transportasi, dengan inflasi sebesar 0,93 persen dan andil 0,12 persen.

“Di mana penyumbang utama inflasi dari kelompok transportasi adalah tarif angkutan udara dengan andil inflasi sebesar 0,06 persen, tarif angkutan antarkota dengan andil inflasi sebesar 0,03 persen, serta tarif kereta api dengan andil inflasi sebesar 0,01 persen,” kata Amalia.

Komoditas lain yang memberi andil inflasi adalah bawang merah sebesar 0,14 persen. Lalu, emas perhiasan 0,08 persen, tomat 0,04 persen, serta bawang putih 0,02 persen.

Di sisi lain, terdapat komoditas yang memberikan andil deflasi. Komoditas itu antara lain cabai merah dengan andil deflasi sebesar 0,14 persen, beras 0,12 persen, serta telur ayam ras 0,06 persen.

Lebih lanjut, dari 38 provinsi, sebanyak 34 provinsi mengalami inflasi. Sementara, empat sisanya deflasi.

Provinsi dengan inflasi tertinggi adalah Papua dan Papua Tengah masing-masing yakni 1,2 persen secara bulanan. Disusul Papua Pegunungan 1,06 persen, Kalimantan Tengah 0,73 persen, dan Papua Barat Daya 0,73 persen.

Sedangkan empat provinsi penyumbang deflasi adalah Lampung minus 0,01 persen secara bulanan. Lalu, Sumatera Utara minus 0,04 persen, Sulawesi Barat minus 0,27 persen, dan Sumatera Barat minus 0,3 persen.