Disdik DKI Larang Perpisahan di Luar Sekolah, PGRI Buka Suara

Berita1357 views

Inionline.id – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menyambut positif kebijakan Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta terkait larangan bagi satuan pendidikan menggelar acara perpisahan peserta didik di luar sekolah.

“Demi melindungi siswa siswi di satuan pendidikan, Disdik DKI melarang satuan pendidikan melaksanakan perpisahan di luar sekolah,” kata Wasekjen Pengurus Besar PGRI, Dudung Abdul Qodir, Selasa (14/5).

Dudung mengatakan Disdik DKI Jakarta memang sudah sejak lama membuat aturan yang ditetapkan melalui surat edaran mengenai perpisahan peserta didik di lingkungan sekolah.

Hal itu dilakukan semata-mata untuk keselamatan, efektivitas, efisiensi, serta kebermaknaan bagi siswa dan keluarga besar satuan pendidikan.

“Apalagi pasca peristiwa musibah yang sangat memprihatinkan dan duka mendalam bagi keluarga korban kecelakaan di Ciater, Kabupaten Subang,” ucapnya.

Kendati demikian, ia meminta kepada Disdik DKI Jakarta agar membuat aturan apabila satuan pendidikan akan menggelar perpisahan siswa di luar sekolah.

“Sehingga memberi nyaman, aman, dan bermakna untuk siswa dalam meningkatkan kompetensi akademik maupun non akademik dan mengembangkan karakter siswa. Sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, harus ada kolaborasi dan sinergi antara sekolah, orang tua siswa dan birokrasi pendidikan,” ujar Dudung.

Disdik DKI melarang satuan pendidikan menggelar acara perpisahan peserta didik di luar sekolah buntut kecelakaan maut bus pengangkut pelajar Depok di Ciater, Subang, Jawa Barat pada Sabtu (11/5) malam.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Purwosusilo mengatakan larangan itu telah ditetapkan melalui surat edaran (SE) yang diteken sejak 30 April 2024.

“Jadi tidak kemana-mana, hanya di sekolah masing-masing menggunakan fasilitas yang ada. Kalau ada sekolah yang melakukan di luar itu, berarti dia perlu pembinaan saya,” kata Purwo saat dihubungi, Selasa (14/5).

Menurutnya, perpisahan yang digelar di luar area sekolah memberatkan orang tua para peserta didik dan berisiko tinggi.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno punya pendapat berbeda.

Dia menilai kelayakan kendaraan untuk study tour sekolah harus diperketat agar tidak terjadi lagi kecelakaan maut seperti yang terjadi pada rombongan SMK Lingga Kencana Depok di Ciater, Subang, Jawa Barat.

Menurut Sandi, letak masalah dari kecelakaan itu bukan pada aktivitas study tour-nya melainkan pada pemilihan bus atau kendaraan.

“Dari musibah kecelakaan yang terjadi di Ciater, kita jadikan ini pelajaran bahwa bukan study tour-nya yang harus diperketat, melainkan kelayakan kendaraan, fasilitas, dan sumber daya manusianya,” kata Sandi melalui unggahannya di akun X @sandiuno, Selasa (14/5).