Bisa Sedot Polusi Udara, Resmi Beroperasi ‘Vakum’ Terbesar di Dunia

Iptek557 views

Inionline.id – Berbagai cara dilakukan untuk mengatasi krisis iklim yang semakin memanaskan dunia. Salah satunya adalah membuat ‘vakum’ raksasa yang bisa menyedot polusi udara yang menjadi penyebab pemanasan global.

Sebuah perusahaan asal Swiss, Climeworks, membuat pembangkit listrik “terbesar di dunia” yang dirancang untuk menyedot polusi dari atmosfer seperti sebuah┬ávakum raksasa. Pembangkit listrik ini mulai beroperasi di Islandia sejak awal Mei lalu.

Instalasi penangkap udara bernama Mammoth itu merupakan proyek kedua yang dibuka oleh Climeworks. Ukurannya 10 kali lebih besar dari pendahulunya, Orca, yang mulai beroperasi pada 2021.

Direct Air Capture (DAC) adalah teknologi yang dirancang untuk menyedot udara dan menghilangkan karbon dengan menggunakan bahan kimia. Karbon kemudian dapat disuntikan jauh di bawah tanah, kemudian bisa digunakan kembali atau diubah menjadi produk-produk yang lebih padat.

Caranya, karbon yang tertangkap akan dialirkan ke bawah tanah dan diubah secara alami menjadi batu, sehingga mengunci karbon secara permanen.

Climeworks mengklaim bahwa Mammoth adalah pembangkit listrik tenaga uap terbesar di dunia. Alat ini memiliki desain modular dengan ruang untuk 72 “wadah pengumpul” – bagian vakum dari mesin yang menangkap karbon dari udara.

Saat ini, 12 di antaranya yang sudah tersedia dan akan ditambah lagi dalam beberapa bulan ke depan.

Menurut perusahaan Mammoth mampu menarik 36.000 ton karbon dari atmosfer per tahun dengan kapasitas penuh. Jumlah tersebut setara dengan menghilangkan sekitar 7.800 mobil bertenaga gas dari jalanan selama setahun.

Jan Wurzbacher, salah satu pendiri dan co-CEO perusahaan tersebut, mengatakan bahwa Mammoth merupakan tahap terbaru dari rencana Climeworks untuk meningkatkan penghapusan karbon hingga 1 juta ton per tahun pada tahun 2030 dan 1 miliar ton pada tahun 2050. Rencana tersebut mencakup potensi pabrik DAC di Kenya dan Amerika Serikat.

Kendati begitu, teknologi penghilangan karbon seperti DAC masih kontroversial. Teknologi ini dikritik karena mahal, boros energi, dan belum terbukti dalam skala besar.

Beberapa pendukung iklim juga khawatir bahwa teknologi ini dapat mengalihkan perhatian dari kebijakan untuk mengurangi bahan bakar fosil.

“Teknologi ini penuh dengan ketidakpastian dan risiko ekologis,” kata Lili Fuhr, direktur program ekonomi fosil di Pusat Hukum Lingkungan Internasional, berbicara tentang penangkapan karbon secara umum.

Stuart Haszeldine, profesor carbon capture and storage di University of Edinburgh, mengatakan instalasi ini sebetulnya merupakan “langkah penting dalam memerangi perubahan iklim”. Namun, menurutnya ini masih merupakan sebagian kecil dari yang dibutuhkan.

Badan Energi Internasional mengatakan semua teknologi penghilang karbon di dunia hanya mampu menghilangkan sekitar 0,01 juta metrik ton karbon per tahun, jauh dari 70 juta ton per tahun yang dibutuhkan pada tahun 2030 untuk memenuhi tujuan iklim global.