Soal Kelangkaan dan Harga Beras, KPPU akan Selidiki Produsen

Ekonomi857 views

Inionline.id – Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) bakal membentuk tim untuk menyelidiki perilaku produsen terkait kelangkaan dan tingginya harga beras.

Komisioner Anggota KPPU Hilman Pujana mengatakan tim itu bakal bergerak di pusat maupun di daerah. Ia mengatakan tim bakal fokus para proses distribusi.

Sebab, kelangkaan dan kenaikan harga tak lepas dari proses tersebut. Hilman mengatakan seretnya stok beras dan tingginya harga bisa terjadi karena proses distribusi yang mampet.

“Nah kalau konteksnya sumbatan distribusi ini kan kita mesti lihat ya, apakah ini dilakukan secara sporadis (masing-masing), atau memang ada komunikasi antar pelaku usaha di channel distribusi ini,” kata Hilman dalam konferensi pers, Rabu (28/2).

Ia pun menuturkan kalau misalnya ditemukan indikasi kerja sama antar produsen dalam menghambat proses distribusi, maka pihaknya bakal melakukan tindakan.

Adapun tindakan yang dimaksud adalah membawa ke ranah hukum.

“Tentunya tupoksi (tugas pokok dan fungsi) kami sebagai KPPU, yaitu penegakkan hukum, tentunya kami akan menindaklanjuti hasil-hasil temuan,” ucap Hilman.

Ia menyebut untuk tahap awal KPPU telah mengadakan Focus Group Discussion (FGD) bersama para produsen hingga kementerian/lembaga terkait untuk membahas permasalahan beras.

Harga beras belakangan menjadi sorotan karena melambung tinggi. Tak hanya itu, stoknya pun langka di ritel modern.

Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) mengungkapkan harga beras saat ini melonjak hingga 20 persen. Padahal bulan Ramadan masih cukup jauh.
Sekretaris Jenderal Ikappi Reynaldi Sarijowan mengatakan harga beras saat ini menjadi Rp18 ribu per kilogram (kg). Naik tinggi dibandingkan biasanya sekitar Rp14 ribu per kg. Ini adalah harga tertinggi sepanjang pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Ya (harga beras premium Rp18.500 per kg tertinggi di era Presiden Jokowi). Hati-hati, jika pasar tradisional stok berasnya tidak melimpah tentu akan terganggu distribusi pangan rakyat yang ada di pasar,” ujarnya pada┬áSelasa (13/2) lalu.

Menurutnya, hilangnya beras premium secara mendadak tidak hanya terjadi di ritel. Di pasar, para pedagang juga kesulitan mendapatkan beras premium, karena memang stok yang dimiliki penggilingan juga terbatas.

Reynaldi menyindir lonjakan harga itu dipicu masifnya gelontoran bansos dan bantuan pangan beras 10 kg sebelum Pilpres 2024 kemarin. Pasalnya, setelah itu, kelangkaan pasokan beras mulai terjadi.

Menurutnya, pembagian bansos dalam momentum politik itu tentu menimbulkan tarik-menarik dengan stok beras di pasar. Ujungnya terjadi lonjakan harga, bahkan kelangkaan.

“Tentu menteri yang terkait dalam hal ini, seperti Menteri Perdagangan (Zulkifli Hasan) dan Menteri BUMN (Erick Thohir) yang memang secara ‘telanjang’ mendukung paslon tertentu. Namun, tidak memperhatikan nasib petani kecil kita, pedagang kecil kita,” kritik Reynaldi.

“Fakta bahwa harga beras tinggi ini bukti pemerintah tidak serius menanganinya. Jelas bahwa tata niaga pangan kita ini mesti diperbaiki dan perlu ada perubahan agar tidak terjadi seperti ini terus-menerus,” tambahnya.