Tidak Bergantung ke AS, Saudi-Mesir Mau Beli Senjata Buatan China

Internasional957 views

Inionline.id – Arab Saudi dan Mesir tengah menegosiasikan kesepakatan pembelian senjata dari China, karena tak mau terlalu bergantung pada Amerika Serikat dan Rusia.

Industri Militer Arab Saudi (SAMI) saat ini sedang melakukan pembicaraan dengan China North Industries Group Corporation (Norinco), untuk mulai membeli peralatan militer mulai dari drone pengintai hingga sistem pertahanan udara.

Menurut laporan intelijen yang berbasis di Beirut, Tactical Report, senjata buatan China yang masuk dalam rencana pembelian di amtaranya Sky Saker FX80, pesawat nirawak CR500, ‘drone bunuh diri’ Cruise Dragon 5 dan 10, hingga sistem pertahanan udara HQ-17AE.

Dilansir SCMP, negosiasi diperkirakan akan berlanjut hingga akhir tahun ini atau awal tahun depan. Menurut laporan, seluruh kesepakatan akan dibayar dalam mata uang yuan China.

Selain Saudi, Mesir juga sedang bernegosiasi dengan China untuk membeli pesawat tempur Chengdu J-10C.

Saat ini, perusahaan China tengah mengembangkan Chengdu J-10C termasuk sistem peperangan elektronik canggih dan radar Active Electronically Scanned Array (AESA).

Meski Amerika Serikat masih menjadi pengekspor senjata utama dunia, namun para pengamat mengatakan China kini muncul sebagai ‘pemasok alternatif’ karena menawarkan senjata canggih tanpa ikatan politik.

“China bersedia menjual peralatan senjata berteknologi tinggi ke negara-negara bersahabat, tanpa syarat politik. Ini adalah daya tarik utama bagi Timur Tengah,” kata mantan instruktur People’s Liberation Army, Song Zhongping, dikutip SCMP.

Sebagai negara dengan anggaran belanja pertahanan terbesar, Arab Saudi mendapatkan senjata dari berbagai negara. Terbesar dari Amerika Serikat.

Namun belakangan ini, Riyadh ingin mendiversifikasi sumber senjatanya dari negara lain. Media China tahun lalu menyebut, Saudi menghabiskan anggaran senilai US$4 miliar dari China, untuk belanja militer.

“Membiayai kesepakatan dengan yuan China dapat membantu menghilangkan pengaruh dolar AS, mencegah AS menggunakan mata uang tersebut sebagai alat untuk menekan dan membatasi,” ungkap Song.