by

Lab Sentral Unpad Siap Memberikan Pelatihan Teknologi Pembuatan Vaksin pada Peneliti Negara OKI

Inionline.id – Laboratorium Sentral Universitas Padjadjaran (Unpad) resmi menjadi laboratorium jejaring PT Biofarma pada program Organization of Islamic Cooperation (OIC) Center of Excellence on Vaccine and Biotechnology. Melalui program ini, empat peneliti dari negara anggota OKI akan mempelajari teknologi vaksin, salah satunya di Lab Sentral Unpad.

Rektor Unpad Rina Indiastuti mengatakan Lab Sentral Unpad telah ditunjuk Kementerian Kesehatan RI sebagai jejaring untuk program “COMSTECH  OIC Fellowship Program” oleh OKI. Pada program tersebut, OKI melalui lembaga COMSTECH memberikan beasiswa kepada peneliti negara anggota untuk belajar mengenai teknologi pembuatan vaksin di Indonesia.

“Empat partisipan dari negara Mesir dan Pakistan akan mengikuti pelatihan dan riset tentang vaksin dan bioteknologi,” kata Rina dilansir dari laman unpad.ac.id, Selasa, 20 September 2022.

Rina menjelaskan salah satu keunggulan Lab Sentral Unpad adalah terdapat beragam disiplin ilmu. Peserta nantinya tidak hanya belajar mengenai teknologi dari satu bidang ilmu, melainkan mendapat banyak pengetahuan multidisiplin.

Selain itu, riset di Lab Sentral Unpad bersifat komprehensif. Artinya, riset yang dikembangkan dimulai dari riset dasar hingga aktivitas riset yang mengarah ke hilirisasi dan kolaborasi dengan industri. Karena itu, Lab Sentral Unpad dapat menjadi fasilitas pengembangan iptek khususnya di bidang kesehatan.

“Insyaallah laboratorium ini bisa melakukan banyak hal dalam menyelesaikan problem di masyarakat,” kata Rina.

Dia menyebut dalam pengembangan vaksin di Indonesia, PT Biofarma telah lama menjalin kerja sama dengan Unpad. Rina menyebut Unpad melalui kelengkapan fasilitas laboratorium yang dimiliki telah banyak menghasilkan prototipe penelitian yang kemudian dikerjasamakan dengan Biofarma.

Selain itu, kerja sama juga dalam hal pengujian klinis dari suatu vaksin yang akan digunakan di Indonesia. Hal ini menjadikan Unpad menjadi pelopor dari pengujian klinis vaksin yang beredar di Indonesia.

Rina berharap melalui program ini Unpad bisa berkontribusi dalam penguatan kapasitas peneliti dari negara anggota OKI. “Dengan begitu mereka bisa lihat kalau di Indonesia ilmunya begini, alatnya begini. Akan tetapi bagi Unpad sendiri ini adalah ajang kolaborasi di antara negara OIC,” tutur Rina.

Sekretaris Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Dita Novianti Sugandi Argadireja mengatakan program ini merupakan implementasi dari inisiasi Indonesia yang ditunjuk menjadi “OIC Center of Excellence on Vaccines and Biotechnology Product” oleh negara OKI pada Konferensi OKI ke-6 pada 2017. Biofarma ditunjuk menjadi laboratorium pusat unggulan tersebut.

Dalam perjalanannya, Biofarma melakukan kerja sama jejaring dengan 10 laboratorium di Indonesia, salah satunya Unpad dalam mewujudkan pusat unggulan riset vaksin dan bioteknologi OKI. Nantinya, peserta magang juga akan mengunjungi berbagai laboratorium jejaring lainnya.

Direktur Operasional Biofarma Rahman Roestan mengatakan keberadaan laboratorium jejaring ini sangat berarti untuk memperkuat kerja sama riset dan pengembangan. Hal itu agar vaksin dan produk bioteknologi yang dibutuhkan negara OKI bisa disiapkan dengan baik.

“Ini bisa kita jadikan sebagai kontribusi Indonesia untuk dunia,” kata Rahman.

Alumnus Unpad tersebut mengatakan Indonesia memiliki teknologi riset dan pengembangan vaksin yang dapat dikolaborasikan dengan negara anggota OKI lainnya.

“Dari 57 negara anggota OKI, ada 10 negara yang punya pabrik vaksin. Dari 10 tersebut, yang sudah diakui WHO untuk program vaksinasi dasar adalah Senegal dan Indonesia. Akan tetapi, Senegal hanya punya satu vaksin, Indonesia punya 14 vaksin yang sudah diakui dunia,” tutur dia.