by

Di Pintu Masuk RI Pemerintah Diminta untuk Memperkuat Pemeriksaan Cacar Monyet

Inionline.id – Pemerintah didesak oleh Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) untuk memperkuat upaya pencegahan cacar monyet atau monkeypox di Indonesia. IDI meminta pemerintah memperluas dan memperketat pemeriksaan atau skrining di pintu-pintu masuk Indonesia.

“Memperluas dan memperketat skrining pada pintu masuk pelabuhan, bandara, dan Pos Lintas Batas Darat Negara (PLBDN),” kata Ketua Umum PB IDI M. Adib Khumaidi dalam keterangan resmi, Selasa (2/8).

Adib mengatakan pengetatan skrining yaitu dengan melakukan pengawasan terhadap pelaku perjalanan melalui pengamatan suhu, pengamatan tanda dan gejala.

“Pada pelaku perjalanan dengan kondisi demam, sebaiknya dilakukan pemeriksaan langsung oleh dokter yang bertugas pada pelabuhan, bandara, ataupun PLBDN tersebut,” tambahnya.

Desakan dari IDI menyusul pernyataan Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang mendeklarasikan wabah cacar monyet sebagai darurat kesehatan global. Selain itu, dalam beberapa hari terakhir mulai muncul temuan kasus kematian pada pasien cacar monyet di sejumlah negara luar Afrika seperti Brasil, Spanyol, dan India.

Adib juga meminta pemerintah berupaya meningkatkan kemampuan laboratorium jejaring dalam diagnostik molekuler spesimen pasien yang dicurigai menderita monkeypox sesuai rekomendasi WHO.

Selain itu, meningkatkan kemampuan dalam identifikasi kontak erat pada pasien suspek dan probable cacar monyet.

“Dan memberikan informasi terkini kepada masyarakat mengenai situasi monkeypox secara berkala dan transparan untuk mencegah terjadinya kepanikan akibat kesimpangsiuran berita,” katanya.

Adib menuturkan PB IDI telah membentuk satuan tugas (satgas) cacar monyet yang terdiri dari sejumlah organisasi profesi lainnya yang bertugas memantau dan mendeteksi potensi monkeypox di Indonesia.

Untuk itu, ia menyampaikan rekomendasi kepada seluruh tenaga kesehatan di Indonesia agar segera melaporkan ke dinas kesehatan setempat apabila terdapat kasus sesuai dengan kriteria suspek atau probable monkeypox.

Nakes juga diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan kemampuan klinis dalam pendekatan diagnosis serta tatalaksana monkeypox untuk meningkatkan kewaspadaan pada pasien dengan gejala klinis sesuai dengan monkeypox dan mencegah komplikasi.

“Melakukan edukasi terhadap masyarakat mengenai tanda gejala, penularan, dan pencegahan infeksi monkeypox, serta mendukung dilakukannya contact tracing apabila ada kasus dengan konfirmasi monkeypox untuk menurunkan risiko penyebaran infeksi Monkeypox,” jelas Adib.

Bertalian dengan itu, Adib mewanti-wanti masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta protokol kesehatan untuk mencegah penularan cacar monyet.

Ia mengimbau masyarakat secara sukarela memberikan informasi yang jujur apabila mengalami gejala monkeypox ataupun memiliki kontak dengan pasien monkeypox.