by

Satgas Ungkap Pentingnya Angka Reproduksi untuk Pantau Penyebaran COVID

Inionline.id – Prof. Wiku Adisasmito Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 menjelaskan dalam menganalisis situasi teraktual COVID-19, salah satu jenis data yang umumnya digunakan adalah reproduction number (R0). Angka ini penting dipahami karena dapat menggambarkan kemampuan penyebaran suatu penyakit.

“Angka ini penting untuk diperhatikan selain angka kasus, angka kematian dan angka fatalitas untuk menjadi dasar penentuan upaya pengendalian COVID-19 yang tepat,” jelas Wiku dikutip dari covid19.go.id.

Wiku menjelaskan reproduction number atau angka reproduksi adalah rata-rata banyak orang yang terinfeksi akibat terpapar dari 1 orang yang positif atau sakit. Umumnya setiap jenis penyakit memiliki basic angka reproduksi yaitu nilai tetap kemampuan penyebaran penyakit dalam situasi tanpa disertai intervensi pencegahan tertentu.

Contohnya R0 COVID-19 varian original dari Wuhan, sebesar 2,4 sampai dengan 2,6. Hal ini berarti 1 orang kasus positif rata-rata dapat menularkan kepada 2-3 orang lain disekitarnya setelah melakukan interaksi.

Semakin tinggi angkanya, maka semakin besar peluang kasus positif meningkat, begitu pun sebaliknya. Rinciannya, angka diatas 1 menyebabkan penambahan kasus berlipat atau eksponensial.

Lalu, angka 1 penambahan kasusnya cenderung stagnan, dan angka di bawah 1 secara gradual akan menginfeksi lebih sedikit orang dan akhirnya dapat menghentikan perluasan penyakit dalam suatu kondisi tertentu layaknya epidemi.

Penetapan besar reproduction number suatu penyakit umumnya dilakukan para ilmuwan untuk menggambarkan tingkat penularan menggunakan data di lapangan yaitu angka kematian, keterisian tempat tidur di rumah sakit, maupun besar kasus positif atau positivity rate .

Sedangkan Rt atau effective reproduction number adalah angka reproduksi penyakit setelah adanya intervensi. Data terkini menunjukkan Rt di Indonesia secara nasional meningkat dari minggu lalu sekitar 0,01 menjadi 0,96.

Jika dilihat lebih mendalam walaupun Rt di seluruh Pulau masih berada dibawah 1, namun angkanya di Pulau Jawa – Bali dan Kalimantan mengalami kenaikan.Untuk itu, penyampaian data angka reproduksi diharapkan menjadi pembelajaran baru bagi pemerintah daerah untuk dapat membaca tingkat penularan COVID-19 dari aspek epidemiologis yang lebih spesifik.

“Ingat untuk bisa memahami penyakit COVID-19 kita memerlukan data dan basis ilmiah untuk menghasilkan kebijakan yang efektif,” tegas Wiku.

Menurutnya, kewaspadaan perlu ditingkatkan ke depannya. Apalagi kemunculan varian baru COVID-19 lainnya yang nyatanya memiliki angka reproduksi yang lebih tinggi perlu juga menjadi perhatian.

“Untuk itu saya mengingatkan masyarakat bukan berarti kondisi kasus yang terkendali akan tetap lestari selamanya. Jika dari kita sendiri tidak berusaha mempertahankannya yaitu dengan konsisten melakukan pengendalian,” kata Wiku.

Angka reproduksi akan sangat dinamis tergantung seberapa baik intervensi yang dilakukan baik pada protokol kesehatan 3M, upaya 3T maupun vaksinasi. Misalnya, jika dapat meningkatkan proteksi kepada 2 orang dengan vaksinasi dan menggalakkan disiplin protokol kesehatan, maka reproduction number dari sebelumnya sebesar 3 dapat menurun menjadi 1.

Apalagi jika penambahan proteksi lainnya seperti menjaga jarak, menghindari kerumunan, melakukan kegiatan esensial dengan terkendali dan menunda kegiatan luar ruang yang tidak mendesak. Maka hal ini dapat berpartisipasi dalam menurunkan reproduction number , sehingga laju infeksi menurun begitu juga dengan angka kasus dan kematian.

“Kita perlu kembali mengencangkan pengendalian agar kita dapat mencegah gelombang kasus baru di tahun depan,” imbuhnya.