by

Akibat Gizi Tak Seimbang Ma’ruf Amin Soroti Penderita Stroke-Diabetes Naik

Inionline.id – Wakil Presiden Ma’ruf Amin menyoroti peningkatan penderita penyakit stroke, jantung, hingga diabetes akibat pola konsumsi makanan dengan gizi yang tidak seimbang. Ma’ruf meminta agar perbaikan gizi dilakukan pada lintas sektor.

“Selain permasalahan gizi kurang, Indonesia juga mengalami peningkatan kasus penyakit degeneratif, seperti stroke, jantung, kanker, dan diabetes. Peningkatan penyakit tidak menular ini salah satunya disebabkan oleh pola konsumsi makanan dengan gizi lebih dan tidak seimbang. Masalah obesitas, baik pada kelompok usia anak-anak, remaja, maupun usia dewasa, perlu segera ditangani,” kata Ma’ruf dalam sambutannya di acara Pertemuan Tahunan Percepatan Perbaikan Gizi secara virtual, Selasa (23/11/2021).

Ma’ruf juga menyoroti prevalensi anemia pada ibu hamil. Ma’ruf Amin menekankan hal itu perlu diantisipasi.

“Masih tingginya prevalensi anemia pada ibu hamil di Indonesia. Bila tidak kita antisipasi, hal ini dapat meningkatkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi, serta menurunkan kualitas bayi yang dilahirkan,” sebutnya.

Investasi di Bidang Nutrisi

Selain itu, Ma’ruf menekankan bahwa investasi di bidang nutrisi perlu dilakukan. Dia mengatakan investasi di bidang nutrisi akan menghasilkan keuntungan 30 kali lipat.

“Investasi di bidang nutrisi merupakan bentuk investasi yang paling menguntungkan. Setiap satu dolar investasi pada program gizi akan menghasilkan keuntungan 30 kali lipat. Itulah mengapa investasi di bidang gizi merupakan smart investment. Nilai ini akan semakin meningkat saat investasi ditujukan pada intervensi yang berdampak tinggi dan meningkatkan peluang serta kualitas hidup. Dengan kata lain, dalam pembangunan, intervensi gizi adalah intervensi yang paling efektif dari segi biaya. Hal inilah yang mendorong terbentuknya Gerakan Percepatan Perbaikan Gizi, atau SUN Movement,” sebutnya.

Ma’ruf mengatakan bahwa Indonesia telah melakukan gerakan percepatan gizi sejak tahun 2011. Pemerintah, kata Ma’ruf, juga terus menguatkan kerangka regulasi untuk percepatan gizi dan percepatan pembangunan.

“Sebagai bentuk dari komitmen tersebut, pemerintah terus melakukan berbagai upaya penguatan, mulai dari penguatan kerangka regulasi, kerangka intervensi, kerangka pendanaan, serta kerangka pemantauan dan evaluasi,” jelasnya.

“Selama 10 tahun terakhir, upaya percepatan perbaikan gizi menunjukkan hasil yang cukup signifikan. Dari tahun 2013 hingga 2019, prevalensi stunting telah turun sebesar hampir 10%, sementara penurunan prevalensi wasting mendekati 5%,” kata Ma’ruf.

Lebih lanjut, Ma’ruf mengatakan kerja kolaboratif adalah kunci keberhasilan pembangunan. Ma’ruf mengatakan bahwa target pemerintah adalah penurunan prevalensi stunting pada 2024.

“Kerja kolaboratif lintas sektoral adalah kunci untuk mencapai keberhasilan dalam agenda pembangunan. Oleh karena itu, kerja cerdas dan kolaboratif dari kita semua harus terus ditingkatkan, karena di balik capaian-capaian percepatan perbaikan gizi, kita masih menghadapi beberapa tantangan,” tuturnya.

“Per tahun 2019, prevalensi stunting adalah 27,67% dan wasting adalah 7,44%. Kita hanya mempunyai waktu sekitar dua tahun untuk mencapai target penurunan prevalensi stunting dan wasting sesuai target RPJMN 2020-2024,” sambungnya.