by

Orangutan “CIKO” Dilepasliarkan di Hutan Lingdung Sungai Lesan, Kalimantan Timur

Kaltim – Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama Centre for Orangutan Protection-Borneo Orangutan Rescue Alliance (COP-BORA) dan Kesatuan Pemangkuan Hutan Produksi (KPHP) Berau Barat – Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur serta dengan dukungan masyarakat desa Lesan Dayak, melepasliarkan 1 (satu) individu Orangutan Morio (Pongo pygmaeus morio) di kawasan Hutan Lindung Sungai Lesan yang terletak di Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur, Kamis (21/10).

Orangutan yang diberi nama “Ciko”, merupakan orangutan jantan dewasa yang diperkirakan berusia diatas 20 (dua puluh tahun). Orangutan yang memiliki bobot tubuh 70 – 80 kg ini diamankan oleh Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) BKSDA Kalimantan Timur, ketika Tim sedang melakukan kegiatan bersama penanganan keberadaan buaya muara di beberapa kolam pengendapan sekaligus pemantauan populasi orangutan yang berada di areal PT. KALTIM PRIMA COAL (PT. KPC).

Sebelumnya, beberapa kali juga telah dilaporkan mengenai keberadaan orangutan yang muncul dari arah areal reklamasi tambang dan berkeliaran di sekitar area workshop. Setelah melakukan kaji cepat dengan mempertimbangkan bahwa pergerakan orangutan berada pada pusat aktivitas pekerja yang beresiko tinggi menimbulkan konflik dengan manusia, maka tim memutuskan untuk melakukan upaya pengamanan lebih lanjut yakni rescue dan translokasi.

Pemantauan awal oleh dokter hewan BKSDA Kalimantan Timur menunjukkan bahwa Ciko dalam kondisi sehat dan memiliki perilaku liar bahkan sempat menunjukkan kekuatannya dengan menjebol pintu kandang transfer aluminium yang digunakan untuk memindahkannya dari lokasi menuju kandang transit. Kondisi tersebut menjadi dasar pertimbangan bahwa Ciko dapat segera dilepasliarkan ke lokasi yang lebih aman.

Kepala BKSDA Kalimantan Timur, Ivan Yusfi Noor setelah melakukan pelepasliaran orangutan “Ciko” menyampaikan bahwa kegiatan penyelamatan, pemindahan dan pelepasliaran orangutan, sebenarnya merupakan pilihan terakhir dalam pengelolaan konflik antara manusia dengan satwa liar khususnya orangutan.

“Ke depan kami sedang menyusun konsep bersama para pihak untuk mengembangkan pola-pola adaptasi untuk mengelola populasi satwa liar khususnya orangutan pada berbagai lanskap baik pada areal perkebunan, pertambangan maupun hutan industri,” kata Ivan.

Ivan menjelaskan bahwa konsep koeksistensi orangutan pada berbagai lanskap tersebut diharapkan mampu meretas tantangan dan kendala upaya-upaya konservasi orangutan di Kalimantan Timur yang populasinya cukup banyak berada di luar kawasan konservasi.

“Kerja kolektif yang panjang serta proses-proses yang kompleks harus ditempuh dalam rangka penyelamatan orangutan agar dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik di habitat alaminya,” pungkasnya. (All)