by

Keren! Kulit Sapi Diolah Menjadi Produk Tas dan Aksesori Kekinian

Inionline.id – Produk UMKM di Kabupaten Magelang semakin beragam. Meski di masa pandemi Covid-19, para pengusaha UMKM tetap eksis dengan berbagai keunikan produknya.

Salah satunya perajin kulit dari Desa Donorojo Mertoyudan. Di tangan Samsul Anwar Yusuf, kulit sapi dan domba bertransformasi jadi produk tas kekinian. Tidak hanya tas, ia dan adiknya, Siti Nurhaliza, juga memproduksi aksesoris seperti dompet, sepatu, gantungan kunci, name tag, dan sebagainya. Produk tersebut kemudian diberi merek Dande Leather Goods.

“Kakak saya dulu kuliah di ITK (Institut Teknologi Kulit) Jogja namanya Samsul Anwar Yusuf. Jadi pengolahan dari sebelum diolah jadi kulit, tapi kakak saya kuliah di yang khusus pengolahan produk jadi finishing, setelah jadi produk ini,” kata Elis, nama panggilan Siti Nurhaliza.

Elis menceritakan, produksi kulit dimulai sejak 2015. Selama 3 tahun hanya berjualan via online dan pada pertengahan 2018 mulai membuka galeri di Dusun Brengosan Desa Donorojo Mertoyudan Kabupaten Magelang.

“Jadi supaya orang-orang bisa langsung lihat produknya ke sini,” ujar Elis saat ditemui di Galeri Dande Leather Goods.

Semua produk kulitnya didesain oleh Samsul lalu dikirim ke penjahit. Saat ini usaha mereka terus berkembang dan memiliki 4 orang penjahit, 2 orang bagian pemotongan, serta 2 orang admin online.

Bahan yang digunakan adalah kulit sapi dan domba, namun dominan kulit sapi. Menurut Elis, kulit sapi lebih tebal dan lebih mudah dibentuk. Kualitasnya juga baik dan awet.

“Karena kalau kulit itu penggunaannya tahunan (lama), susah banget rusaknya, awet, justru kulit itu kalau semakin sering dipakai teksturnya lebih bagus. jadi lebih lemes terus kulitnya lebih mengkilap,” ungkapnya.

Bahannya diambil dari Magelang, Muntilan, Magetan dan sebagian Yogyakarta.

“Temen sendiri yang menyuplay,” terangnya.

Harga produk kulit di sini bisa dibilang relatif terjangkau. Harga dompet pria berkisar Rp150.000 sampai Rp300.000, dompet perempuan dan pouch antara Rp150.000 sampai Rp400.000.

“Tas yang ada selempangnya (sling bag) minimal Rp350.000, paling mahal masih under Rp1 juta, Rp850.000 itu tas yang berukuran besar. Kalau yang paling mahal ransel Rp950.000,” papar Elis.

Untuk perawatan produk kulit, Elis berpesan agar jangan disimpan di tempat yang lembab karena bisa memicu munculnya jamur. Apabila disimpan dalam lemari tertutup, sebaiknya seminggu sekali dikeluarkan agar produk tidak berjamur.

“Soalnya kulit itu kalau udah jamuran otomatis kaku dia dan kusam. Masih bisa dibersihin tapi tergantung kondisi jamurnya juga. Jamurnya kadang ada yang putih ada yang hitam, kalau yang hitam itu udah susah. Kalau yang putih itu mungkin dilap baru dikasih (krim khusus produk kulit) ini udah hilang,” pesannya.

Dalam menjalankan usahanya, Elis dan kakanya juga memberdayakan masyarakat sekitar. Ada satu orang penjahit dan dua orang bagian pemotongan.

“Juga untuk pengemasan kan ada kemasan ini namanya dustbag ini yang buat juga orang sini, yang nyablon juga orang sini, waktu pembuatan tokonya juga orang sini yang buat,” pungkasnya.