by

BPBD Jawa Barat: Bandung Raya-Tasikmalaya Masuk Status Siaga Banjir

Inionline.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat menyebut ada tujuh daerah yang masuk ke dalam status siaga banjir. Tujuh daerah itu yakni Sukabumi, Tasikmalaya, Indramayu, Bekasi, Karawang, Bogor dan Bandung Raya.

“Itu yang diinformasikan BMKG status levelnya siaga, karena memang berdasarkan informasi yang disampaikan BMKG. Ada satu perubahan iklim yang membuat potensi awal musim hujannya maju,” ujar Kasi Kedaruratan BPBD Jabar Hadi Rahmat saat ditemui, Selasa (14/9/2021).

Hadi mengatakan, status siaga banjir itu berlaku dari 13 – 15 September 2021. Hadi mengatakan, status itu muncul karena awal musim hujan yang datang lebih cepat.

“Pastinya karena memang dari cuaca kan, memang perubahan iklim berdampak. September harusnya kemarau, tapi musim hujannya datang lebih cepat dan kondisi hujannya di atas normal di beberapa daerah,” kata Hadi.

Sebab karena itu, ia berharap kabupaten/kota tersebut melakukan antisipasi dan meningkatkan kewaspadaan, khususnya di daerah-daerah yang kerap mengalami banjir atau longsor. “Kabupaten-kota seharusnya melakukan upaya-upaya preventif untuk daerah-daerah tersebut. Kesiapsiagaan kaitan dengan peralatan dan logistik itu dipersiapkan semaksimal mungkin. Misalnya chainsaw atau perahu bermesin, selain itu masalah kesiapsiagaan personel juga posisinya, durasinya kita tidak tahu,” ujarnya.

Sebelumnya, BMKG menetapkan level siaga banjir itu menyusul adanya prediksi cuaca ekstrem yang akan terjadi di provinsi tersebut. Ada 4 provinsi yang ditetapkan siaga banjir, yakni DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

“Berdasarkan Prakiraan Cuaca Berbasis Dampak (IBF-Impact Based Forecast) BMKG, potensi dampak bencana hidrometeorologi berupa banjir, banjir bandang, dan atau tanah longsor dari cuaca ekstrem hingga 3 (tiga) hari ke depan, yakni tanggal 15 September 2021, untuk level siaga,” kata Deputi Bidang Meteorologi, Guswanto, dalam keterangannya, Selasa (14/9/2021).

Guswanto memaparkan cuaca ekstrem tersebut terjadi akibat mulai aktifnya sejumlah fenomena dinamika atmosfer yang melewati wilayah Indonesia. Dia menyebut fenomena Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby Ekuatorial, dan gelombang Kelvin akan terpantau aktif di wilayah Indonesia hingga seminggu ke depan.

“MJO, gelombang Rossby Ekuatorial, dan gelombang Kelvin adalah fenomena dinamika atmosfer yang mengindikasikan adanya potensi pertumbuhan awan hujan dalam skala yang luas di sekitar wilayah aktif yang dilewatinya,” ucapnya.

Selain itu, Guswanto menyebut pertemuan kecepatan angin mengakibatkan potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia. Kemudian suhu muka laut yang masih hangat hingga tingginya kelembapan udara juga mendukung fenomena cuaca ekstrem yang diprediksi terjadi di Indonesia.