by

Ridwan Kamil Gandeng Telkom Property Siapkan Tempat Isoman, Supono Kritisi Kurang Perhitungannya Pemprov Jabar

KOTA BANDUNG, Inionline.id – Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jawa Barat (Jabar) intens berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk menekan angka keterisian tempat tidur (Bed Occupancy Rate/BOR) di rumah sakit. Salah satunya dengan menambah kapasitas ruang-ruang isolasi bagi pasien COVID-19.

Pemda Provinsi Jabar bersama Telkom Property akan menyiapkan fasilitas asrama mahasiswa di Telkom University, Kabupaten Bandung, sebagai tempat isolasi mandiri. Pada tahap awal, ada dua gedung asrama Telkom University dengan kapasitas 260 tempat tidur disiapkan.

Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengatakan, penyiapan fasilitas isolasi mandiri di asrama Telkom University ini harus dipercepat. Mengingat, dalam situasi seperti ini kecepatan sangat diperlukan untuk memenuhi pelayanan kesehatan bagi pasien COVID-19 yang akan isolasi mandiri.

“Makanya tahap satu arahan saya tolong dikebut segera dalam dua hari ini,” ujar Kang Emil –sapaan Ridwan Kamil– dalam telekonferensi bersama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Telkomedika, dan Grup Pertamedika di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Selasa (13/7/2021).

Kang Emil juga meminta kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jabar Nina Susana Dewi untuk mengatur teknisnya. Karena asrama tersebut bisa digunakan sebagai dua pilihan, pertama untuk isolasi mandiri atau tempat transit bagi pasien COVID-19 yang menuju sembuh setelah dirawat di rumah sakit.

Termasuk juga mengenai tenaga kesehatan yang perlu segera disiapkan. Jangan sampai, banyak pasien COVID-19 yang menjalani isolasi mandiri di asrama Telkom University tidak terakomodasi karena kekurangan tenaga kesehatan.

“Saya minta Kadinkes pikirkan peruntukan apakah sebagai isolasi yang ringan, orang tanpa gejala (OTG) tapi rumahnya tidak cukup, atau sekian persen untuk pasien dari rumah sakit yang proses pemulihan,” kata Kang Emil.

Menanggapi kabar tersebut, Ketua Fraksi PAN DPRD Jawa Barat menilai Ridwan Kamil dan Pemprov Jabar harusnya sudah memiliki perhitungan yang matang terkait lonjakan kasus Covid-19.

“Bahwa kemungkinan-kemungkinan penanggulangan pandemi ini harus semua indikator dan persoalan itu sudah dihitung, termasuk kalau terjadi peningkatan atau lonjakan yang terpapar Covid,” tukas Supono.

Dirinya menambahkan bahwa sebenarnya banyak alternatif tempat isoman seperti memaksimalkan aset-aset milik Pemprov.

“Yang kedua adalah sebenarnya kita punya pemikiran dari jauh hari sebelumnya mengkonversikan dengan kondisi krisis seperti ini dengan adanya PSBB dan sekaran PPKM Darurat, itukan juga kegiatan usaha tidak berjalan, hotel-hotel dan penginapan yang otomatis tutup, itu dikonversi untuk menjadi tempat isolasi,” imbuh Supono.

Lebih lanjut dirinya menyatakan dengan adanya konversi tersebut diharapkan hotel dan penginapan bisa mendapatkan pemasukan melalui anggaran yang tersedia untuk penanganan Covid-19.

“Dengan keadaan yang sekarang ini, Pemprov Jabar kesannya seperti tergagap-gagap untuk mencari apa yang harus dilakukan, seharusnya secara kalkulatif itu sudah diperhitungkan, sekarang kalau ada langkah kerjasama seperti itu ya, mending terlambat daripada tidak sama sekali,” tutup Supono, Kamis (15/07/2021).