by

Direktur Keuangan Aniaya Perempuan Ini Kronologisnya

Inionline.id, Jakarta–Lantaran diduga memiliki persoalan pribadi, seorang karyawan berani memukuli atasannya hingga babak belur dihajar habis-habisan di dalam sebuah lift di apartemen Kedoya Westling Jakarta Barat pada 28 Juni 2021 tepat pukul 16.00 WIB.

Nahasnya, seorang perempuan yang menjadi korban dari keganasan karyawan tersebut. Memukuli korban di dalam lift dari lantai 16 sampai lantai 1, hingga wajahnya berlumururan penuh dengan darah.

“Awalnya saya sudah telpon dia selalu ngelak, dan beberapa persoalan yang harus dibicarakan oleh pelaku, saya cuma mau ketemu dan bicara baik baik. namun saya malah dipukuli di dalam lift dari lantai 15 sampai lantai 1, hancur muka saya seperti mandi darah,” jelas A. Kartadinata atasan dari karyawan yang melakukan penganiayaan kepada awak media, Minggu (25/07/21).

Karyawan tersebut bernama Andi Gunardi salah satu pejabat Direktur Keuangan di PT. AMB yang sudah 15 tahun lamanya bekerja di perusahaan. Lantaran dipukuli tersebut Korban langsung melapor ke Polda Metro Jaya guna meminta perlindungan hukum atas penganiayaan yang menimpa dirinya.

“Setelah dipukuli saya langsung berangkat ke rumah sakit, untuk visum dan langsung melaporkan kejadian penganiayaan yang menimpa dirinya ke Polda Metro Jaya,” kata Anastascha.

Adapun laporan Polisi nomor: LP/B/3286/VI/2021/SPKT/POLDA METRO JAYA, tanggal 28 Juni 2021 pihak Polda sudah memberikan surat pemberitahuan perkembangan hasil penyelidikan (SP2HP) dengan nomor : B/2524/VII/RES.1.16./2021/Ditreskrimum.

A.kartadinata mendapat informasi dari teman yang berada di Apartemen (TKP) seluruh satpam yang ada disana langsung dirumahkan, dimungkinkan untuk menghilangkan jejak saksi-saksi yang melihat kejadian tersebut.

“Namun saya juga heran, kenapa setelah kejadian seluruh satpam di lokasi dirumahkan (dipecat), mungkin karena menghindari saksi-saksi di lokasi, karena semua satpam pada tahu semua dan itu sempat heboh,” imbuhnya.

Diketahui sebelumnya bahwa si pelaku (A. Gunardi) turut melaporkan balik ke Polres Jakarta Barat dengan tuduhan yang sama seperti korban. Berharap mendapatkan perlindungan hukum yang sama.

“Kemarin saya sudah dipanggil penyidik untuk klarifikasi Polres Jakbar, dan saya kooperatif, jadi kalo memang mau adil seharusnya CCTV di lift juga harus dihadirkan sebagai bukti karena disitu bukti kuatnya saya menjadi korban keganasan pelaku,” tutur Tasya sapaan akrabnya.

Dirinya berharap proses hukum tetap berlanjut, “Harapan dari kasus ini, apapun yang terjadi proses hukum akan terus berjalan, dan meminta kepada aparat penegak hukum untuk berlaku adil,” pungkasnya. (Har).