by

Pemerintah Mengakui Penerapan Industri 4.0 Butuh Waktu

Inionline.id – Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengakui penerapan revolusi industri 4.0 tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat di Indonesia. Pasalnya, revolusi industri 4.0 membutuhkan kesiapan dari sumber daya manusia (SDM) dan infrastruktur.

“Penerapan 4.0 di Indonesia tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Ini perlu kesiapan dari sisi SDM dan infrastruktur. Infrastruktur untuk bidang digital,” ungkap Deputi Bidang Kerja Sama Ekonomi Internasional Rizal Affandi dalam Webinar: Industri 4.0 Menuju Pemulihan Ekonomi, Senin (5/4).

Ia menjelaskan banyak hal yang harus diubah untuk menerapkan revolusi industri 4.0. Menurutnya, industri perlu mengubah mesin-mesin produksi sesuai dengan teknologi digital terkini.

“Sekarang mulai masuk ke industri 4.0, di mana di situ sebagian barang, 40 persen-50 persen dari barang itu harus disesuaikan dengan adanya teknologi digital,” katanya.

Untuk perusahaan yang sudah siap, sambung Rizal, bisa mulai memasuki industri 4.0 dan bersaing di tingkat global. Makanya, pemerintah kini sedang fokus mengembangkan infrastruktur dan menyiapkan SDM agar revolusi industri 4.0 bisa segera diterapkan secara penuh di Indonesia.

“Ini penting kemampuan daripada SDM yang juga dibutuhkan, kesiapan latihan dari kemampuan tenaga kerja yang ada. Jadi ini butuh waktu dan peta jalan yang telah dikeluarkan Kementerian Perindustrian,” kata Rizal.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian Eko Cahyanto mengatakan revolusi industri 4.0 akan membutuhkan lebih banyak tenaga kerja. Dengan kata lain, hal ini akan mendongkrak perekonomian dari sisi ketenagakerjaan.

“Selama ini banyak orang selalu mengira dengan implementasi industri 4.0 itu tadi akan mengurangi banyak tenaga kerja karena digantikan dengan mesin, padahal kalau betul-betul dimanfaatkan teknologi ini justru butuh lebih banyak lagi tenaga kerja,” papar Eko.

Berdasarkan paparan Kementerian Perindustrian, pemerintah menargetkan revolusi industri 4.0 akan menambah jumlah lapangan pekerjaan dari 20 juta lapangan pekerjaan menjadi 30 juta lapangan pekerjaan.

Hanya saja, SDM di Indonesia juga harus belajar untuk menambah kemampuannya di sektor teknologi untuk bisa berkompetisi di industri yang menerapkan 4.0. Eko mengatakan pemerintah sudah melakukan sosialisasi cukup masif terkait industri 4.0.

“Kami sudah lakukan mulai dari sosialisasi sampai pelatihan, tidak hanya kepada calon tenaga kerja, tapi juga pelaku usaha industri itu sendiri,” katanya.

Ia menambahkan sosialisasi dan pelatihan dilakukan kepada jajaran atas di perusahaan hingga karyawan biasa. Hal ini agar kemampuan SDM di Indonesia bisa sejalan dengan upaya pemerintah dalam melakukan revolusi industri 4.0.