by

Haul Kiyai Muslich, Dibnajiri Ulama dan Santri

Jakarta – inionline.id – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin ikut hadir pada peringatan haul wafatnya KH Muslich ke-18 di Perguruan Diponegoro, Rawamangun, Jakarta. Selain ribuan santri, tampak hadir juga Shinta Nuriyah Abdurahman Wahid, Trisna Willy Lukman, Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Moh Thamrind, dan Kakanwil Kemenag DKI Abdurrahman.
“Rekam jejak KH Muslich menunjukan kecintaan beliau kepada ilmu pengetahuan. Ini hal penting (yang harus dicontoh) buat adek-adek sekalian para siswa siswi perguruan Diponegoro ini,” kata Menag saat didaulat untuk memberikan sambutan, Jumat (20/01).
“Kalau kita lihat beliau, selain sekolah di SD, kalau dulu Sekolah Rakyat, beliau juga sekolah di Madrasah Mambaul Ulum. Jadi pendidikan dasarnya saja sudah dua, umum dan madrasah,” tambahnya.
Tidak cukup belajar di sekolah dan madrasah, masa kecil Kyai Muslich juga diisi dengan mendalami ilmu agama di pesantren Sunniyah Keprabon Tengah. Sementara waktu malamnya diisi dengan mengaji Al-Quran di Pesantren KH Cholil Kauman.
“Dalam waktu beberapa saat, beliau kemudian berpindah-pindah pondok pesantren. Beliau juga belajar kitab fikih di pesantren Keprabon dan Jamsaren,” ucap Menag.
Kecintaan Kyai Muslich terhadap ilmu, lanjut Menag, juga mengantarkan dirinya mengaji dan mondok di beberapa pesantren, antara lain: Bogangin Sampyuh, Leler Kebasen, Tebuireng-Jombang, Tremas Pacitan, dan Krapyak Yogyakarya. Dari situ, tergambar kecontaan KH Haji Muslich terhadap ilmu pengetahuan.
“Ilmu pengetahuan itulah yang membentuk karakter beliau sehingga kemudian mampu melahirkan peninggalan dan warisan yang dapat kita rasakan,” kata Menag.
Selain cinta ilmu, Menag melihat sosok KH Muslich sebagai orang yang bersahaja. Selain pendidik, KH Muslich adalah enterpreneur, seorang wiraswasta. “Banyak usaha yang telah dilakukan, tapi beliau tidak melakukan untuk diri sendiri atau untuk keluarganya,” ucap Menag.
“Saya yakin tidak banyak warisan yang ditinggalkan oleh beliau untuk keluarganya, akan tetapi untuk orang lain yaitu dalam bentuk lembaga pendidikan seperti sekarang, nilai nilai kesederhanaan, nilai-nilai kebersamaan, mementingkan kepentingan orang banyak. Ini hal yang juga patut kita teladani dari KH. Muslich,” imbuhnya.
KH Muslich juga mempunyai kiprah sebagai wakil rakyat. Dia pernah menjadi anggota legislatif. Dia juga dikenal sebagai sosok ulama yang pertama kali duduk di kursi DPR (1960).
Selain di legislatif, KH Muslich juga pernah berkiprah di eksekutif, yaitu di Kementerian Agama. Karirnya di Kemenag mulai tahun 1946 saat menjadi penghulu di Kabupaten Cilacap. KH Mushlih juga tercatat pernah menjadi Kepala Jawatan Agama di beberapa kota, yaitu: Madiun, Bukittinggi, Medan, dan Semarang. KH Muslich mulai hijrah ke Jakarta pada tahun 1951 dan turut menyusun Jawatan Urusan Agama Pusat.
Sebagai pencinta ilmu, KH Muslich pada akhirnya kembali pada dunia pendidikan dengan mendirikan Yayasan Perguruan Diponegoro di Purwokerto dan Jakarta. Lahir di Tambaknegara Kecamatan Rawalo, Banyumas pada tahun 1910, KH Muslich wafat 28 Desember 1998 dalam usia 88 tahun. (Ald)