by

Kekuatan USD Mereda, Rupiah Dibuka Mulai Bangkit

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan hari ini tercatat menguat setelah kemarin sempat melemah cukup parah. Penguatan rupiah hari ini seiring melemahnya USD terhadap bebarapa mata uang dunia lainnya.

Berdasarkan data dari kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah dibuka pada level Rp13.435/USD. Posisi ini membaik dibanding posisi sebelumnya di level Rp13.473/USD.

Data SINDOnews bersumber dari Limas menunjukkan rupiah berada di level Rp13.435/USD atau tercatat menguat dari banding posisi penutupan kemarin di level Rp13.490/USD.

Sementara data Bloomberg pagi ini rupiah dibuka berada di level Rp13.463/USD atau melemah tipis dari penutupan kemarin di level Rp13.459/USD. Meski demikian, pada pukul 10.06 WIB rupiah mulai menunjukkan penguatan di level Rp13.430/USD dengan kisaran harian Rp13.406-Rp1.463/USD.

Di sisi lain posisi rupiah menurut Yahoo Finance pada perdagangan hari ini dibuka berada di level Rp13.468/USD atau mendatar dari posisi penutupan kemarin. Namun, pada pukul 10.08 WIB rupiah mulai menguat ke level Rp13.429/USD dengan kisaran Rp13.400/USD-Rp13.468/USD.

Seperti dilansir Reuters, Kamis (22/12/2016) USD tergelincir dari level tertinggi dalam 14 tahun terhadap beberapa mata uang dunia pada hari ini, karena investor mengambil keuntungan menjelang liburan dan data ekonomi AS yang akan dirilis hari ini.

Indeks USD yang mengukur greenback terhadap enam mata uang sebagai rival utama, berdiri di level 103,02. Nilai tersebut surut dari posisi Selasa di level 103,65 atau tertinggi sejak Desember 2002.

Penurunan dolar terbatas karena Federal Reserve (The Fed) mengisyaratkan lebih sering akan melakukan kenaikan suku bunga acuan pada 2017 agar pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat di bawah pemerintahan Donald Trump.

Sementara, perdagangan diperkirakan akan melambat menjelang Natal, fokus pasar dalam jangka pendek adalah data ekonomi AS yang akan dirilis hari ini, termasuk PDB direvisi untuk periode Juli-September, dan lainnya.

“Pasar relatif tenang pada suasana menjelang liburan, tetapi jika data ekonomi AS lebih buruk dari yang diharapkan pasar maka dolar kemungkinan akan dijual lebih lanjut,” kata Kumiko Ishikawa, analis pasar FX di Sony Financial Holdings.

Indeks USD telah menguat lebih dari 5% sejak pemilu AS pada 8 November karena para pelaku pasar mengharapkan Trump akan meningkatkan belanja fiskal dan memicu inflasi yang lebih tinggi.

Sumber : ekbis