by

KPU Ajak Anak Muda Menjadi Pemilih Rasional, Tak Pilih Paslon Karena Uang atau Saudara

Inionline.id – Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengingatkan anak muda agar tak memilih pemimpin hanya karena keterikatan kekerabatan pada Pilkada 2020. Komisioner KPU, Ilham Saputra mengingatkan anak mudah supaya menjadi pemilih yang rasional.

“Anak-anak mudah ini nanti bisa mengingatkan gimana nanti menjadi pemilih yang rasional. Memilih bukan karena orang yang dipilihnya ini adalah saudaranya, orang yang dipilih ini adalah artis orang yang dipilihnya ini orang-orang yang membayar dia, misalnya money politic,” kata Ilham dalam sebuah acara di kanal Youtube Changeorg Indonesia, Selasa (24/11).

Ilham berpesan supaya para anak muda mesti sadar bahwa mereka harus memilih pemimpin yang janji programnya akan bersentuhan langsung dengan mereka.

“Jangan sampai kemudian menjadi penyesalan di kemudian hari ya,” tegas dia.

Menurut Ilham, KPU sudah menyelenggarakan pendidikan pemilih. Termasuk di daerah yang tahun ini tak turut menggelar pilkada serentak. Pendidikan itu diutamakan bagi golongan yang kerap terpinggirkan.

“Kami juga melakukan pendidikan pemilih, salah satunya kepada kelompok-kelompok terpinggirkan ya, seperti perempuan ya dan juga teman-teman disabilitas,” sebutnya.

Menurutnya, anak mudah memang bukan bagian dari golongan yang terpinggirkan. Namun bagi Ilham, perlu juga memupuk gairah politik mereka guna menciptakan penguatan demokrasi di Indonesia.

“Jangan sampai kemudian nanti yang melakukan penyelenggaraan pemerintahan, penyelenggaraan pemilu, yang melakukan pengawasan orangnya itu-itu aja. Kita perlu regenerasi dalam bagaimana kita terlibat dalam penguatan demokrasi ini,” tandasnya.

Ilham Saputra khawatir anak muda yang tak paham demokrasi, bakal bersikap anti kritik jika menduduki suatu jabatan.

“Karena kalau orang-orang ini bukan orang yang paham akan pentingnya demokrasi, paham akan pentingnya pemilu dan lain sebagainya, ini kekhawatiran kita adalah ketika menjadi pemimpin, malah jadi anti kritik,” kata Ilham.

Oleh karenanya, Ilham berharap keterlibatan anak muda dalam setiap proses demokrasi. Terutama di saat masa pilkada seperti sekarang.

“Jangan sampai kemudian proses penyelenggara pemerintahan, proses penyelenggara pemilu yang melakukan pengawasan orangnya itu-itu aja. Kita perlu regenerasi dalam bagaimana kita terlibat dalam penguatan demokrasi ini,” tuturnya.

Ilham sekilas menceritakan bagaimana bisa menjadi penyelenggara pemilu. Diawali sebagai seorang aktivis, kemudian bekerja di lembaga non-pemerintahan akhirnya ‘naik kelas’ menjadi anggota penyelenggara pemilu.

“Nah ini yang kita harapkan juga agar kemudian perspektif orang-orang yang menyelenggarakan pemerintahan itu punya perspektif pemerintahan yang bisa dikritik,” tutup dia.