by

Banyak Pekerjaan Rumah Saat Libur Sekolah akan Membuat Siswa Stres

Inionline.id – Opsi belajar di rumah menjadi salah satu cara yang diterapkan pemerintah bagi para pelajar untuk menghindari penularan virus Corona (COVID-19). Namun pekerjaan rumah yang menumpuk dari sekolah dikeluhkan para pelajar.

Setidaknya keluhan-keluhan itu diterima Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) di masa awal penerapan kebijakan untuk belajar di rumah. Untuk itu KPAI pun meminta dinas pendidikan mengevaluasi para guru.

Banyak Pekerjaan Rumah Bikin Siswa Stres Saat Libur Sekolah

Penerapan belajar di rumah ini seperti dilakukan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Dia mengatakan selama proses kegiatan belajar di sekolah ditutup, pihak sekolah diharapkan menyiapkan materi pembelajaran jarak jauh untuk guru dan anak.

“Lakukan dengan metode jarak jauh, lakukan dengan proses digital. Tujuannya adalah untuk mengurangi interaksi yang punya potensi terjadi penularan,” kata Anies.

Apa saja keluhannya?Kegiatan ini lantas mulai berlangsung. Namun dalam perjalanannya KPAI menemukan berbagai keluhan.

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti, mengaku menerima pengaduan sejumlah orang tua siswa. Retno menduga banyak guru tidak memahami konsep belajar dari rumah atau home learning.

“Seiring dengan 14 hari belajar di rumah, ternyata tugas yang harus dikerjakan anak-anak mereka di rumah malah sangat banyak, karena semua guru bidang studi memberikan tugas yang butuh dikerjakan lebih dari 1 jam. Akibatnya, tugas makin menumpuk-numpuk, anak-anak jadi kelelahan,” ucap Retno.

“Mereka malah stres karena mendapatkan berbagai tugas setiap hari dari para gurunya,” imbuh Retno.

Retno pun menyayangkan kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Dinas Pendidikan setempat karena tidak melakukan persiapan terhadap guru untuk melakukan kegiatan belajar dari rumah. Menurutnya, kementerian dan dinas terkait harus membuat semacam petunjuk teknis terkait metode pembelajaran dari rumah secara online.

“KPAI menyayangkan Kemdikbud dan dinas-dinas pendidikan tidak melakukan edukasi terlebih dahulu kepada para guru dan sekolah ketika ada kebijakan belajar di rumah selama 14 hari. Kalau sudah ada persiapan maka semestinya tidak terjadi penumpukan tugas yang justru memberatkan anak-anak,” ujar Retno.

Selanjutnya, Retno meminta dinas pendidikan setempat dan kepala sekolah agar melakukan evaluasi dalam metode pembelajaran guru secara online. Dia ingin siswa tidak dibebankan dengan banyaknya PR yang diberikan.

Selain itu, Retno meminta agar pemerintah daerah turut meliburkan guru yang ada di sekolah. Menurutnya pencegahan penyebaran virus Corona akan efektif apabila guru dan kepala sekolah juga bekerja dari rumah.

“Jangan peserta didiknya belajar di rumah, tetapi para gurunya tetap masuk untuk memenuhi absen. Merumahk

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.